

Sepanjang 2025, Ethereum mencatat fluktuasi harga yang jauh lebih besar dibandingkan Bitcoin, dengan penurunan maksimum mencapai 60% sementara Bitcoin hanya 10%. Kondisi ini secara mendasar mengubah persepsi trader institusi dan ritel terhadap kedua aset digital. Perbedaan volatilitas ini menjadi sorotan utama pasar kripto tahun tersebut, menyoroti perbedaan struktur mendasar dalam cara masing-masing aset menarik modal serta respons terhadap tekanan pasar.
Pendorong utama volatilitas ekstrem Ethereum adalah lonjakan perdagangan leverage di pasar derivatif. Volume perdagangan futures dan perpetual Ethereum mencapai $85,7 triliun, jauh melampaui volume spot yang hanya $17,1 triliun—rasio 5:1 yang menunjukkan dominasi posisi margin oleh trader ritel. Ketika terjadi pergerakan harga yang memicu likuidasi massal, dampaknya sangat terasa pada Ethereum, dengan nilai likuidasi mencapai $180 juta, hanya sedikit di bawah Bitcoin yang sebesar $177 juta, meski kapitalisasi pasar BTC jauh lebih besar.
Perdagangan spekulatif memperkuat fluktuasi ini. Hanya dalam satu kali jatuh tempo opsi senilai $60 miliar pada pertengahan 2025, volatilitas meningkat tajam seiring reposisi trader menuju tanggal kadaluarsa. Selain itu, volatilitas tersirat Ethereum mencapai rasio IV ETH/BTC sebesar 2,2 pada Juli, menandakan ekspektasi pasar terhadap pergerakan harga Ethereum jauh lebih tinggi daripada Bitcoin. Hal ini mencerminkan konsentrasi modal spekulatif di altcoin, sementara Bitcoin semakin kokoh sebagai aset institusional. Bitcoin sendiri diuntungkan oleh arus masuk ETF spot lebih dari $3,3 miliar, menyediakan stabilitas harga yang belum dapat disaingi oleh infrastruktur institusi Ethereum, sehingga Bitcoin memperoleh keunggulan struktural dalam stabilitas relatif sepanjang 2025.
Konfigurasi teknikal Ethereum di 2026 menghadirkan peluang pergerakan arah yang menarik, dengan level support dan resistance yang jelas menciptakan lingkungan perdagangan yang terstruktur. Zona support $2.600 menjadi lantai penting di mana pembeli selalu menunjukkan keyakinan, sementara resistance $3.200 adalah batas atas yang memicu tekanan jual signifikan. Di antara kedua level ini, ETH terkonsolidasi dalam pola segitiga simetris yang diamati secara ketat oleh trader untuk mengantisipasi breakout signifikan.
Berbagai indikator teknikal menunjukkan konvergensi yang menandakan pergerakan besar akan terjadi. Moving average sederhana 7-hari menempatkan ETH di atas level harga kunci, sedangkan indikator MACD telah berbalik naik, menandakan penguatan momentum. Analis memperkirakan bahwa penembusan resistance $3.200 dapat memicu akselerasi kenaikan yang signifikan, dengan potensi target harga jauh lebih tinggi sepanjang tahun. Sebaliknya, penurunan di bawah $2.600 akan menggugurkan skenario bullish. Kerangka teknikal ini menjadikan 2026 sangat penting bagi trader Ethereum dalam menganalisis probabilitas arah berdasarkan pola grafik dan posisi indikator teknikal.
Bitcoin dan Ethereum memperlihatkan korelasi positif yang solid sepanjang siklus pasar, di mana Ethereum secara historis mengikuti pergerakan Bitcoin dengan volatilitas lebih tinggi. Korelasi BTC-ETH ini semakin menonjol seiring percepatan adopsi institusi, menjadikan proyeksi harga Ethereum di 2026 sangat bergantung pada performa Bitcoin. Namun, hubungan tersebut menjadi lebih kompleks ketika faktor makroekonomi yang lebih luas, khususnya kebijakan Federal Reserve, turut berperan.
Ketidakpastian kebijakan Fed menciptakan berbagai skenario untuk 2026. Ekspektasi pasar saat ini menunjukkan kemungkinan pemangkasan suku bunga hanya 20% pada Januari 2026, naik menjadi sekitar 45% di Maret. Divergensi ini memicu gelombang volatilitas yang memengaruhi kedua kripto secara berbeda. Jika Fed mempertahankan suku bunga, Ethereum diperkirakan tertekan ke $2.400, sementara pemangkasan agresif dapat mendorong harga ke $3.700-$3.800 pada pertengahan 2026. Selain kebijakan moneter, keputusan fiskal—termasuk pembiayaan Treasury dan laju injeksi likuiditas—kian memengaruhi variabel pasar yang sebelumnya hanya dikaitkan dengan Fed. Dinamika makroekonomi ini menentukan selera risiko dan likuiditas sistem, sehingga secara langsung berdampak apakah korelasi BTC-ETH akan semakin kuat atau justru melemah dalam periode tertentu sepanjang 2026.
Proyeksi valuasi Ethereum hingga 2030 sangat ditentukan oleh dua faktor utama yang saling terkait: keberhasilan pelaksanaan upgrade teknologi yang direncanakan serta kematangan ekosistem tokenisasi aset dunia nyata (RWA). Analis industri memperkirakan ETH dapat diperdagangkan antara $8.000 hingga $30.000 pada akhir dekade, dengan skenario dasar sekitar $12.000, merefleksikan asumsi adopsi jaringan dan pertumbuhan pendapatan biaya transaksi.
Peta jalan teknologi berdampak langsung pada valuasi melalui peningkatan skalabilitas. EIP-4844 (Proto-Danksharding) memperkenalkan transaksi blob sementara yang secara signifikan menurunkan biaya transaksi dengan tetap menjaga keamanan melalui jaringan terdesentralisasi Ethereum. Upgrade ini sangat bermanfaat untuk solusi layer-2 yang memproses transaksi dengan mengandalkan Ethereum untuk ketersediaan data. Rencana implementasi penuh Danksharding lebih lanjut akan meningkatkan throughput dan aksesibilitas data, menjadikan Ethereum sebagai lapisan penyelesaian untuk aplikasi berkapasitas tinggi. Semua upgrade ini menghasilkan biaya lebih rendah dan peningkatan aktivitas jaringan, yang akhirnya meningkatkan nilai jaringan.
Di saat bersamaan, tokenisasi RWA menjadi pendorong pertumbuhan utama. Sektor ini berkembang dari sekitar $5 miliar pada 2022 menjadi sekitar $24 miliar di pertengahan 2025, dengan proyeksi mencapai $10 triliun pada 2030. Ethereum dan jaringan layer-2-nya saat ini menjadi infrastruktur utama dari aset tokenisasi tersebut. Dengan semakin banyak institusi mengadopsi aset properti, sekuritas, dan instrumen kredit berbasis blockchain, volume transaksi dan pendapatan biaya meningkat, menopang valuasi Ethereum yang lebih tinggi. Konvergensi antara peningkatan skalabilitas yang memungkinkan biaya transaksi lebih rendah dan ekspansi RWA yang mendorong pemanfaatan jaringan menciptakan efek majemuk terhadap potensi harga jangka panjang.
Bitcoin cenderung memiliki volatilitas lebih rendah daripada Ethereum karena kapitalisasi pasar dan volume perdagangannya yang lebih besar. Ethereum, dengan likuiditas yang lebih kecil, mengalami fluktuasi harga yang lebih tajam. Rata-rata volatilitas harian Bitcoin berkisar 3-5%, sedangkan Ethereum sering mengalami fluktuasi 5-8%, sehingga lebih volatil secara keseluruhan.
Ya, Ethereum diproyeksikan akan menunjukkan volatilitas harga yang lebih tinggi dibandingkan Bitcoin pada 2026. Kapitalisasi pasar ETH yang lebih kecil dan konsentrasi volume perdagangan yang lebih tinggi membuatnya lebih rentan terhadap fluktuasi harga. Analisis teknikal memperkirakan ETH/BTC bisa naik lebih dari 80% pada 2026, menandakan potensi volatilitas yang lebih tinggi di Ethereum.
Sentimen pasar, perubahan regulasi, kondisi makroekonomi, volume perdagangan, upgrade teknologi, adopsi institusi, dan dinamika penawaran-permintaan merupakan faktor utama. Pasokan tetap Bitcoin sebesar 21 juta berbeda dengan suplai Ethereum yang fleksibel, sehingga pola volatilitas keduanya berbeda.
Bitcoin menghadapi fluktuasi harga akibat faktor makroekonomi dan perubahan regulasi, sehingga berisiko menimbulkan kerugian besar. Volatilitas Ethereum bersumber dari pembaruan smart contract dan dinamika pasar DeFi, yang memperbesar potensi penurunan. Keduanya memerlukan manajemen risiko dan pengaturan posisi yang disiplin.
The Merge menurunkan volatilitas Ethereum dengan mengurangi tekanan jual dan meningkatkan reward staking, sehingga menarik investor jangka panjang. Upgrade teknikal meningkatkan keamanan serta efisiensi jaringan, membantu menstabilkan harga dibandingkan periode sebelum upgrade.
Ethereum (ETH) adalah token asli blockchain Ethereum, sebuah platform terdesentralisasi untuk smart contract dan aplikasi terdesentralisasi. Berbeda dengan Bitcoin yang berfungsi utama sebagai mata uang digital, Ethereum adalah platform komputasi. Perbedaan utama: Bitcoin fokus pada pembayaran dan transfer nilai, sedangkan Ethereum memungkinkan smart contract dan DApp. Ethereum menggunakan konsensus PoS, Bitcoin PoW. ETH memiliki suplai tidak terbatas dan berfungsi sebagai utility token untuk biaya jaringan, sedangkan Bitcoin memiliki batas 21 juta dan dirancang sebagai uang digital.
Pembelian ETH dapat dilakukan melalui exchange atau langsung menggunakan hardware wallet Ledger. Penyimpanan paling aman adalah di hardware wallet seperti Ledger Nano, yang menjaga private key tetap offline dan terlindung dari risiko peretasan.
Mining Ethereum berakhir pada September 2022 dengan "The Merge", mengalihkan konsensus dari Proof-of-Work ke Proof-of-Stake. ETH sudah tidak dapat ditambang lagi. Saat ini, staking ETH menjadi metode utama untuk memperoleh reward di jaringan.
Smart contract Ethereum adalah kode yang berjalan otomatis di blockchain. Kontrak ini menegakkan perjanjian tanpa perantara dan menjadi fondasi aplikasi terdesentralisasi, protokol DeFi, serta perdagangan otomatis di ekosistem Ethereum.
Harga ETH dipengaruhi upgrade Ethereum 2.0, investasi institusi, kebijakan regulasi global, pertumbuhan ekosistem DeFi dan NFT, serta sentimen pasar. Risiko utamanya meliputi volatilitas pasar, perubahan regulasi, dan risiko teknologi.
Upgrade Ethereum 2.0 meningkatkan performa jaringan dan menurunkan biaya transaksi melalui konsensus proof-of-stake dan teknologi sharding. Upgrade ini meningkatkan skalabilitas, memperkuat kelangkaan ETH melalui mekanisme deflasi, serta berpotensi meningkatkan harga jangka panjang seiring meningkatnya adopsi.











