

Dengan Bitcoin bertahan kokoh di atas Rp114.000, investor kripto kini menghadapi satu pertanyaan penting: Akankah Bitcoin mampu menembus Rp125.000 sebelum siklus bull ini berakhir? Banyak indikator mengarah ke jawaban ya—berikut alasannya.
Peluncuran spot Bitcoin ETF membawa masuk dana institusional dalam skala besar. Arus dana mingguan ke ETF ini tetap stabil meski terjadi koreksi pasar minor, menandakan kepercayaan jangka panjang dari keuangan tradisional.
Masuknya dana institusi cenderung bertahan lama—sering kali mendorong penemuan harga ke level lebih tinggi. Arus modal dari institusi keuangan mapan ini juga menandai perubahan mendasar dalam persepsi dan adopsi Bitcoin di pasar utama.
Data on-chain menunjukkan jumlah Bitcoin di bursa terpusat turun ke level terendah dalam lebih dari lima tahun.
Artinya, makin sedikit orang yang ingin menjual. Sebaliknya, mereka lebih memilih menahan, staking, atau menyimpan BTC di cold wallet. Penurunan pasokan ini meningkatkan tekanan harga ke atas seiring permintaan yang terus tumbuh. Ketika pasokan menyusut sementara permintaan stabil atau naik, secara ekonomi, valuasi cenderung meningkat.
Pemegang besar—dompet dengan lebih dari 1.000 BTC—diam-diam mengakumulasi selama beberapa siklus pasar terakhir. Aktivitas whale seperti ini sering mendahului pergerakan harga besar, karena pelaku pasar canggih memposisikan diri lebih awal untuk kemungkinan reli lanjutan.
Jika pemain utama mulai menambah kepemilikan, itu merupakan sinyal bullish yang kuat. Secara historis, perilaku pemegang besar menjadi indikator andal arah pasar ke depan.
Lingkungan makro saat ini sangat berpihak pada Bitcoin:
Faktor-faktor makroekonomi ini mendukung pertumbuhan aset alternatif seperti kripto.
Kita saat ini memasuki fase pasca-halving—periode setiap siklus Bitcoin yang secara historis mendorong lonjakan harga signifikan.
Pola historis menunjukkan periode pasca-halving kerap memberi imbal hasil besar, meski kinerja lalu tidak menjamin hasil masa depan.
Meski ada penurunan sesekali, komunitas kripto dan analis utama masih cenderung positif. Indikator sentimen tetap di area optimis tanpa tanda overheat ekstrem—menandakan masih ada ruang kenaikan.
Keseimbangan optimisme dan kehati-hatian menunjukkan pasar dalam kondisi sehat, bukan didorong euforia irasional.
Banyak analis menilai begitu BTC menembus Rp125.000, reli berikutnya bisa makin cepat—seperti di siklus-siklus sebelumnya. Level psikologis Rp125.000 menjadi tonggak penting yang dapat menarik modal dan perhatian media lebih besar.
Pertanyaannya: Apakah Anda hanya menonton dari pinggir—atau sudah memposisikan diri untuk ikut ambil bagian saat momentum itu tiba?
Bitcoin bukan sekadar bertahan—tetapi semakin kuat. Dengan permintaan institusional, sinyal on-chain, dukungan makro, dan pola siklus historis, Rp125.000 bukan sekadar target kemungkinan—tetapi sudah di depan mata.
Seperti biasa, lakukan riset menyeluruh, kelola risiko dengan bijak, dan jangan pernah berinvestasi lebih dari batas kemampuan Anda. Konvergensi banyak faktor bullish mengindikasikan Bitcoin masih berpotensi naik, meski investor tetap harus waspada dan terinformasi.
Jika sejarah berulang—atau sekadar berima—level harga saat ini bisa jadi peluang besar ke depan.
Bitcoin telah melewati Rp120.000 dan kini hanya sekitar Rp5.000 dari target Rp125.000. Tonggak penting sebelumnya: Rp10.000, Rp20.000, Rp50.000, Rp69.000, dan Rp100.000. Permintaan institusional kuat dan faktor makro yang positif mendukung target Rp125.000 di siklus ini.
Kenaikan harga Bitcoin didorong ketidakstabilan makroekonomi dan pelemahan dolar, investasi institusional via spot ETF yang menyerap modal besar, tren teknikal bullish (higher lows dan moving average positif), serta dinamika siklus halving yang mendukung potensi harga lebih tinggi di siklus ini.
Siklus bull kali ini berbeda drastis. Bitcoin sudah menembus Rp125.000 dan mencetak all-time high baru. Dengan adopsi institusional lebih kuat, dukungan makro berkelanjutan, serta likuiditas luar biasa, menembus level harga lebih tinggi kini jauh lebih mudah dibanding siklus sebelumnya.
Bitcoin menghadapi resistance kuat di Rp124.000 akibat akumulasi institusi dan aktivitas spot ETF. Risiko utama: volatilitas pasar, perubahan kebijakan regulasi, dan aksi ambil untung pemegang besar. Breakout dapat mendorong BTC ke Rp126.000.
Investor institusi dan arus masuk ETF sangat mendorong harga Bitcoin dengan meningkatkan likuiditas dan permintaan pasar. Arus modal besar membantu BTC menembus resistance kunci, menciptakan momentum kenaikan berkelanjutan hingga Rp125.000 atau lebih selama siklus bull.











