Pasar bijih besi telah mengalami fluktuasi harga yang cukup signifikan sejak tekanan ekonomi global mulai terasa. Dari puncaknya yang melebihi US$220 per metrik ton pada Mei 2021 hingga titik terendah US$84,50 pada November tahun yang sama, komoditas ini mencerminkan pola permintaan yang berubah dan kendala pasokan. Penurunan tersebut terutama didorong oleh berkurangnya konsumsi dari China disertai peningkatan volume produksi.
Pemulihan mendapatkan momentum pada 2023, dengan harga yang stabil di antara US$120 dan US$130 per MT, didukung oleh gangguan produksi di wilayah utama, ketegangan geopolitik, dan kebijakan bea ekspor India yang dipadukan dengan permintaan China yang kembali meningkat. Namun, 2024 membawa tantangan baru. Harga bijih besi dibuka tahun ini di US$144 per MT tetapi memburuk menjadi US$91,28 per MT pada pertengahan September, tertekan oleh biaya pinjaman yang lebih tinggi, pertumbuhan ekonomi global yang lebih lemah, dan tantangan struktural di sektor properti China. Pengumuman stimulus terbaru dari Beijing dan pemotongan suku bunga oleh Federal Reserve menawarkan potensi katalis upside untuk trajektori jangka pendek komoditas ini.
Memahami Negara Penghasil Bijih Besi Terbesar di Dunia dan Rekannya
Untuk memahami mekanisme pasar, penting untuk meneliti negara mana yang menjadi penggerak pasokan bijih besi global. Berdasarkan data tahun 2023 dari US Geological Survey, berikut peringkat produsen terkemuka:
1. Australia — Negara Penghasil Bijih Besi Terbesar di Dunia
Produksi yang Dapat Digunakan: 960 juta metrik ton Kandungan Besi: 590 juta metrik ton
Dominasi Australia dalam penambangan bijih besi tetap tak tertandingi. Output negara ini secara signifikan melebihi semua pesaing, dengan tiga pemain utama yang mengakar dalam produksi: BHP, Rio Tinto, dan Fortescue Metals Group. Wilayah Pilbara menjadi permata mahkota industri—Rio Tinto memasarkan Pilbara Blend sebagai “merek bijih besi paling terkenal di dunia.”
Joint venture Rio Tinto Hope Downs dengan Hancock Prospecting mengoperasikan empat tambang terbuka yang mampu memproduksi 47 juta ton per tahun. Operasi Besi Australia Barat milik BHP terdiri dari lima pusat penambangan dengan empat pusat pengolahan, termasuk delapan fasilitas tambang terbuka di Area C dan kepemilikan 85% di operasi Newman.
2. Brasil — Penantang yang Meningkat
Produksi yang Dapat Digunakan: 440 juta metrik ton Kandungan Besi: 280 juta metrik ton
Brasil menempati posisi kedua sebagai produsen terbesar, dengan output terkonsentrasi di negara bagian Pará dan Minas Gerais, yang bersama-sama menyuplai 98% dari produksi nasional. Tambang Carajas milik Vale—yang merupakan operasi bijih besi tunggal terbesar di dunia—menjadi andalan pasokan Brasil. Sebagai produsen pelet besi utama di dunia, Vale terus memperluas outputnya. Pengiriman Brasil meningkat pesat sepanjang 2023 dan mempertahankan momentum naik hingga 2024, dengan para analis mengaitkan peningkatan pasokan dari Brasil sebagai pendorong utama pasar.
3. China — Konsumen Terbesar
Produksi yang Dapat Digunakan: 280 juta metrik ton Kandungan Besi: 170 juta metrik ton
Meskipun menempati posisi ketiga dalam produksi, China mengkonsumsi lebih banyak bijih besi daripada negara lain di dunia. Tambang Dataigou di provinsi Liaoning, yang dioperasikan oleh Glory Harvest Group Holdings, merupakan aset produksi terbesar negara dengan output tahunan 9,07 juta MT. Dominasi baja tahan karat China menciptakan nafsu yang tak pernah puas—negara ini mengimpor lebih dari 70% bijih besi laut untuk memenuhi cadangan domestik yang tidak cukup.
4. India — Tren Pertumbuhan Stabil
Produksi yang Dapat Digunakan: 270 juta metrik ton Kandungan Besi: 170 juta metrik ton
Output India tahun 2023 meningkat menjadi 270 juta MT(dari sebelumnya 251 juta MT), mencerminkan ekspansi sektor. NMDC, perusahaan penambang besi utama negara, mencapai kapasitas tahunan 40 juta MT pada 2021 dan menargetkan 60 juta MT pada 2027. Perusahaan ini mengoperasikan kompleks Bailadila di Chhattisgarh bersama tambang Donimalai dan Kumaraswamy di Karnataka.
5. Rusia — Produksi Terpengaruh Sanksi
Produksi yang Dapat Digunakan: 88 juta metrik ton Kandungan Besi: 58 juta metrik ton
Rusia memproduksi 88 juta MT pada 2023, mempertahankan posisi kelima meskipun menghadapi tantangan geopolitik. Oblast Belgorod menjadi lokasi dua tambang utama: Lebedinsky GOK milik Metalloinvest(22,05 juta MT per tahun) dan Stoilensky GOK milik Novolipetsk Steel(19,56 juta MT per tahun). Sanksi menyebabkan penurunan ekspor yang drastis—pengiriman turun menjadi 84,2 juta MT pada 2022 dari sebelumnya 96 juta MT. Rusia dan Ukraina secara kolektif mewakili 36% dari ekspor baja non-alloy global sebelum gangguan konflik, sementara pembatasan dari UE semakin membatasi aliran bijih Rusia.
6. Iran — Pertumbuhan yang Muncul
Produksi yang Dapat Digunakan: 77 juta metrik ton Kandungan Besi: 50 juta metrik ton
Iran naik dari posisi ke-10 pada 2021 menjadi posisi keenam pada 2023, dengan produksi 77 juta MT. Tambang Gol-e-Gohar di provinsi Kerman menjadi aset utama. Teheran menargetkan produksi baja tahunan sebesar 55 juta MT pada 2025-2026, yang membutuhkan output bijih sebesar 160 juta MT. Kebijakan bea ekspor—yang awalnya ditetapkan sebesar 25% pada September 2019—mengalami beberapa revisi, dan Februari 2024 membawa pengurangan signifikan untuk meningkatkan daya saing.
7. Kanada — Produsen Amerika Utara
Produksi yang Dapat Digunakan: 70 juta metrik ton Kandungan Besi: 42 juta metrik ton
Kanada menyumbang 70 juta MT pada 2023. Champion Iron mengoperasikan kompleks Bloom Lake di Quebec, mengirim konsentrat melalui Kereta Api Bloom Lake ke pelabuhan Sept-Îles. Ekspansi Fase 2 yang mencapai produksi komersial pada Desember 2022 meningkatkan kapasitas dari 7,4 juta MT menjadi 15 juta MT konsentrat dengan kandungan besi 66,2%. Perusahaan ini sedang meningkatkan setengah kapasitasnya menjadi bahan baku pelet besi 69% pada 2024.
8. Afrika Selatan — Kinerja Menurun
Produksi yang Dapat Digunakan: 61 juta metrik ton Kandungan Besi: 39 juta metrik ton
Output Afrika Selatan tahun 2023 sebesar 61 juta MT menunjukkan penurunan yang cukup signifikan dari 73,1 juta MT dua tahun sebelumnya, mencerminkan hambatan logistik dan keterbatasan infrastruktur kereta api. Kumba Iron Ore, produsen utama Afrika dan dimiliki 69,7% oleh Anglo American, menjadi pemain utama di sektor ini. Tambang Sishen milik Kumba menjadi penggerak utama produksinya.
9. Kazakhstan — Produksi Asia Tengah
Produksi yang Dapat Digunakan: 53 juta metrik ton Kandungan Besi: 8,8 juta metrik ton
Produksi Kazakhstan tahun 2023 mencapai 53 juta MT, meskipun tren penurunan terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Eurasian Resources Group memiliki empat dari lima tambang terbesar di negara ini, dengan operasi Sokolovsky menghasilkan 7,52 juta ton per tahun. Asosiasi Produksi Tambang Sokolov-Sarybai sebelumnya memasok produsen baja Rusia tetapi menghentikan pengiriman setelah peristiwa geopolitik.
10. Swedia — Cerita Pertumbuhan Jangka Panjang
Produksi yang Dapat Digunakan: 38 juta metrik ton Kandungan Besi: 27 juta metrik ton
Produksi Swedia tahun 2023 sebesar 38 juta MT mencerminkan ekspansi selama satu dekade. Tambang Kiruna milik LKAB yang dimiliki negara—beroperasi selama lebih dari satu abad dan merupakan operasi bijih besi bawah tanah terbesar di dunia—menghasilkan 13 juta MT pelet dan halus serta 0,6 juta MT bijih batu untuk blast furnace.
Kesimpulan
Posisi Australia sebagai negara penghasil bijih besi terbesar di dunia mencerminkan keunggulan struktural, infrastruktur pertambangan kelas dunia, dan cadangan bijih yang melimpah. Lanskap bijih besi global terus berkembang seiring faktor geopolitik, kebijakan perdagangan, dan dinamika permintaan yang membentuk posisi kompetitif di antara produsen tradisional dan yang sedang berkembang.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Pasokan Bijih Besi Global: Negara Mana yang Menguasai Produksi?
Gambaran Pasar dan Dinamika Harga
Pasar bijih besi telah mengalami fluktuasi harga yang cukup signifikan sejak tekanan ekonomi global mulai terasa. Dari puncaknya yang melebihi US$220 per metrik ton pada Mei 2021 hingga titik terendah US$84,50 pada November tahun yang sama, komoditas ini mencerminkan pola permintaan yang berubah dan kendala pasokan. Penurunan tersebut terutama didorong oleh berkurangnya konsumsi dari China disertai peningkatan volume produksi.
Pemulihan mendapatkan momentum pada 2023, dengan harga yang stabil di antara US$120 dan US$130 per MT, didukung oleh gangguan produksi di wilayah utama, ketegangan geopolitik, dan kebijakan bea ekspor India yang dipadukan dengan permintaan China yang kembali meningkat. Namun, 2024 membawa tantangan baru. Harga bijih besi dibuka tahun ini di US$144 per MT tetapi memburuk menjadi US$91,28 per MT pada pertengahan September, tertekan oleh biaya pinjaman yang lebih tinggi, pertumbuhan ekonomi global yang lebih lemah, dan tantangan struktural di sektor properti China. Pengumuman stimulus terbaru dari Beijing dan pemotongan suku bunga oleh Federal Reserve menawarkan potensi katalis upside untuk trajektori jangka pendek komoditas ini.
Memahami Negara Penghasil Bijih Besi Terbesar di Dunia dan Rekannya
Untuk memahami mekanisme pasar, penting untuk meneliti negara mana yang menjadi penggerak pasokan bijih besi global. Berdasarkan data tahun 2023 dari US Geological Survey, berikut peringkat produsen terkemuka:
1. Australia — Negara Penghasil Bijih Besi Terbesar di Dunia
Produksi yang Dapat Digunakan: 960 juta metrik ton
Kandungan Besi: 590 juta metrik ton
Dominasi Australia dalam penambangan bijih besi tetap tak tertandingi. Output negara ini secara signifikan melebihi semua pesaing, dengan tiga pemain utama yang mengakar dalam produksi: BHP, Rio Tinto, dan Fortescue Metals Group. Wilayah Pilbara menjadi permata mahkota industri—Rio Tinto memasarkan Pilbara Blend sebagai “merek bijih besi paling terkenal di dunia.”
Joint venture Rio Tinto Hope Downs dengan Hancock Prospecting mengoperasikan empat tambang terbuka yang mampu memproduksi 47 juta ton per tahun. Operasi Besi Australia Barat milik BHP terdiri dari lima pusat penambangan dengan empat pusat pengolahan, termasuk delapan fasilitas tambang terbuka di Area C dan kepemilikan 85% di operasi Newman.
2. Brasil — Penantang yang Meningkat
Produksi yang Dapat Digunakan: 440 juta metrik ton
Kandungan Besi: 280 juta metrik ton
Brasil menempati posisi kedua sebagai produsen terbesar, dengan output terkonsentrasi di negara bagian Pará dan Minas Gerais, yang bersama-sama menyuplai 98% dari produksi nasional. Tambang Carajas milik Vale—yang merupakan operasi bijih besi tunggal terbesar di dunia—menjadi andalan pasokan Brasil. Sebagai produsen pelet besi utama di dunia, Vale terus memperluas outputnya. Pengiriman Brasil meningkat pesat sepanjang 2023 dan mempertahankan momentum naik hingga 2024, dengan para analis mengaitkan peningkatan pasokan dari Brasil sebagai pendorong utama pasar.
3. China — Konsumen Terbesar
Produksi yang Dapat Digunakan: 280 juta metrik ton
Kandungan Besi: 170 juta metrik ton
Meskipun menempati posisi ketiga dalam produksi, China mengkonsumsi lebih banyak bijih besi daripada negara lain di dunia. Tambang Dataigou di provinsi Liaoning, yang dioperasikan oleh Glory Harvest Group Holdings, merupakan aset produksi terbesar negara dengan output tahunan 9,07 juta MT. Dominasi baja tahan karat China menciptakan nafsu yang tak pernah puas—negara ini mengimpor lebih dari 70% bijih besi laut untuk memenuhi cadangan domestik yang tidak cukup.
4. India — Tren Pertumbuhan Stabil
Produksi yang Dapat Digunakan: 270 juta metrik ton
Kandungan Besi: 170 juta metrik ton
Output India tahun 2023 meningkat menjadi 270 juta MT(dari sebelumnya 251 juta MT), mencerminkan ekspansi sektor. NMDC, perusahaan penambang besi utama negara, mencapai kapasitas tahunan 40 juta MT pada 2021 dan menargetkan 60 juta MT pada 2027. Perusahaan ini mengoperasikan kompleks Bailadila di Chhattisgarh bersama tambang Donimalai dan Kumaraswamy di Karnataka.
5. Rusia — Produksi Terpengaruh Sanksi
Produksi yang Dapat Digunakan: 88 juta metrik ton
Kandungan Besi: 58 juta metrik ton
Rusia memproduksi 88 juta MT pada 2023, mempertahankan posisi kelima meskipun menghadapi tantangan geopolitik. Oblast Belgorod menjadi lokasi dua tambang utama: Lebedinsky GOK milik Metalloinvest(22,05 juta MT per tahun) dan Stoilensky GOK milik Novolipetsk Steel(19,56 juta MT per tahun). Sanksi menyebabkan penurunan ekspor yang drastis—pengiriman turun menjadi 84,2 juta MT pada 2022 dari sebelumnya 96 juta MT. Rusia dan Ukraina secara kolektif mewakili 36% dari ekspor baja non-alloy global sebelum gangguan konflik, sementara pembatasan dari UE semakin membatasi aliran bijih Rusia.
6. Iran — Pertumbuhan yang Muncul
Produksi yang Dapat Digunakan: 77 juta metrik ton
Kandungan Besi: 50 juta metrik ton
Iran naik dari posisi ke-10 pada 2021 menjadi posisi keenam pada 2023, dengan produksi 77 juta MT. Tambang Gol-e-Gohar di provinsi Kerman menjadi aset utama. Teheran menargetkan produksi baja tahunan sebesar 55 juta MT pada 2025-2026, yang membutuhkan output bijih sebesar 160 juta MT. Kebijakan bea ekspor—yang awalnya ditetapkan sebesar 25% pada September 2019—mengalami beberapa revisi, dan Februari 2024 membawa pengurangan signifikan untuk meningkatkan daya saing.
7. Kanada — Produsen Amerika Utara
Produksi yang Dapat Digunakan: 70 juta metrik ton
Kandungan Besi: 42 juta metrik ton
Kanada menyumbang 70 juta MT pada 2023. Champion Iron mengoperasikan kompleks Bloom Lake di Quebec, mengirim konsentrat melalui Kereta Api Bloom Lake ke pelabuhan Sept-Îles. Ekspansi Fase 2 yang mencapai produksi komersial pada Desember 2022 meningkatkan kapasitas dari 7,4 juta MT menjadi 15 juta MT konsentrat dengan kandungan besi 66,2%. Perusahaan ini sedang meningkatkan setengah kapasitasnya menjadi bahan baku pelet besi 69% pada 2024.
8. Afrika Selatan — Kinerja Menurun
Produksi yang Dapat Digunakan: 61 juta metrik ton
Kandungan Besi: 39 juta metrik ton
Output Afrika Selatan tahun 2023 sebesar 61 juta MT menunjukkan penurunan yang cukup signifikan dari 73,1 juta MT dua tahun sebelumnya, mencerminkan hambatan logistik dan keterbatasan infrastruktur kereta api. Kumba Iron Ore, produsen utama Afrika dan dimiliki 69,7% oleh Anglo American, menjadi pemain utama di sektor ini. Tambang Sishen milik Kumba menjadi penggerak utama produksinya.
9. Kazakhstan — Produksi Asia Tengah
Produksi yang Dapat Digunakan: 53 juta metrik ton
Kandungan Besi: 8,8 juta metrik ton
Produksi Kazakhstan tahun 2023 mencapai 53 juta MT, meskipun tren penurunan terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Eurasian Resources Group memiliki empat dari lima tambang terbesar di negara ini, dengan operasi Sokolovsky menghasilkan 7,52 juta ton per tahun. Asosiasi Produksi Tambang Sokolov-Sarybai sebelumnya memasok produsen baja Rusia tetapi menghentikan pengiriman setelah peristiwa geopolitik.
10. Swedia — Cerita Pertumbuhan Jangka Panjang
Produksi yang Dapat Digunakan: 38 juta metrik ton
Kandungan Besi: 27 juta metrik ton
Produksi Swedia tahun 2023 sebesar 38 juta MT mencerminkan ekspansi selama satu dekade. Tambang Kiruna milik LKAB yang dimiliki negara—beroperasi selama lebih dari satu abad dan merupakan operasi bijih besi bawah tanah terbesar di dunia—menghasilkan 13 juta MT pelet dan halus serta 0,6 juta MT bijih batu untuk blast furnace.
Kesimpulan
Posisi Australia sebagai negara penghasil bijih besi terbesar di dunia mencerminkan keunggulan struktural, infrastruktur pertambangan kelas dunia, dan cadangan bijih yang melimpah. Lanskap bijih besi global terus berkembang seiring faktor geopolitik, kebijakan perdagangan, dan dinamika permintaan yang membentuk posisi kompetitif di antara produsen tradisional dan yang sedang berkembang.