Sebagian besar pengusaha mengejar kekayaan tanpa henti. Tapi Yvon Chouinard berbeda. Pendiri Patagonia tidak pernah berniat membangun kerajaan yang akan menjadikannya salah satu orang terkaya di dunia—namun itulah yang terjadi.
Perjalanan Chouinard dimulai bukan di ruang rapat, tetapi di gunung dan di laut. Self-described sebagai “dirtbag”—istilah pendaki gunung untuk seseorang yang mengutamakan petualangan daripada akumulasi—dia menghabiskan tahun-tahun pembentukannya dengan mengasah keahliannya. Seorang anak yang merasa terpinggirkan dan lebih suka menyendiri di alam, dia menemukan panjat tebing pada usia 14 melalui klub falconry. Pada usia 16, dia sudah mencoba puncak secara solo. Ini bukanlah gangguan dari bisnis; ini adalah tujuan hidupnya. Sepanjang perjalanan, dia bekerja sebagai detektif swasta dan mengejar berbagai kegiatan outdoor sebelum mengarahkan hasratnya ke Patagonia bersama istrinya pada tahun 1973.
Perusahaan ini berkembang dengan filosofi sederhana: membuat perlengkapan outdoor berkualitas tanpa mengorbankan etika. Tapi kesuksesan datang dengan harga yang tidak nyaman. Ketika Forbes mengakui Chouinard sebagai salah satu miliarder dunia pada 2017, dia merasa hancur daripada merasa divalidasi. Mengumpulkan kekayaan $3 miliar bukanlah pencapaian baginya—itu adalah bukti kegagalan. Misi hidupnya selalu untuk memperbaiki dunia dan memajukan keadilan, bukan membangun kekayaan pribadi.
Kesadaran itu memicu keputusan radikal. Pada tahun 2022, di usia 83 tahun, Chouinard menjadi berita utama dengan mentransfer semua saham Patagonia ke Holdfast Collective, sebuah organisasi yang didedikasikan untuk perlindungan lingkungan dan aksi iklim. Secara bersamaan, dia mendirikan Patagonia Purpose Trust, sebuah dana abadi yang menghasilkan $100 juta dolar setiap tahun untuk upaya pelestarian planet.
“Alih-alih mengekstraksi nilai dari alam untuk memperkaya investor, kami akan menggunakan kekayaan Patagonia untuk melindungi alam itu sendiri,” jelasnya kepada staf dan pelanggan. Dia mengubah makna langkah tersebut: “Kami tidak go public—kami go public dengan tujuan.”
Transformasi ini mengungkap sesuatu yang jarang dibahas dalam lingkaran bisnis: kekosongan yang dialami beberapa orang saat mengejar kesuksesan konvensional. Kesediaan Chouinard untuk menolak status miliarder yang paling diidamkan menunjukkan pertanyaan yang lebih dalam bagi pengusaha di mana-mana—untuk apa sebenarnya kekayaan itu?
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Ketika Seorang Miliarder Pergi: Bagaimana Kekayaan Yvon Chouinard Menjadi Kekuatan untuk Kebaikan
Sebagian besar pengusaha mengejar kekayaan tanpa henti. Tapi Yvon Chouinard berbeda. Pendiri Patagonia tidak pernah berniat membangun kerajaan yang akan menjadikannya salah satu orang terkaya di dunia—namun itulah yang terjadi.
Perjalanan Chouinard dimulai bukan di ruang rapat, tetapi di gunung dan di laut. Self-described sebagai “dirtbag”—istilah pendaki gunung untuk seseorang yang mengutamakan petualangan daripada akumulasi—dia menghabiskan tahun-tahun pembentukannya dengan mengasah keahliannya. Seorang anak yang merasa terpinggirkan dan lebih suka menyendiri di alam, dia menemukan panjat tebing pada usia 14 melalui klub falconry. Pada usia 16, dia sudah mencoba puncak secara solo. Ini bukanlah gangguan dari bisnis; ini adalah tujuan hidupnya. Sepanjang perjalanan, dia bekerja sebagai detektif swasta dan mengejar berbagai kegiatan outdoor sebelum mengarahkan hasratnya ke Patagonia bersama istrinya pada tahun 1973.
Perusahaan ini berkembang dengan filosofi sederhana: membuat perlengkapan outdoor berkualitas tanpa mengorbankan etika. Tapi kesuksesan datang dengan harga yang tidak nyaman. Ketika Forbes mengakui Chouinard sebagai salah satu miliarder dunia pada 2017, dia merasa hancur daripada merasa divalidasi. Mengumpulkan kekayaan $3 miliar bukanlah pencapaian baginya—itu adalah bukti kegagalan. Misi hidupnya selalu untuk memperbaiki dunia dan memajukan keadilan, bukan membangun kekayaan pribadi.
Kesadaran itu memicu keputusan radikal. Pada tahun 2022, di usia 83 tahun, Chouinard menjadi berita utama dengan mentransfer semua saham Patagonia ke Holdfast Collective, sebuah organisasi yang didedikasikan untuk perlindungan lingkungan dan aksi iklim. Secara bersamaan, dia mendirikan Patagonia Purpose Trust, sebuah dana abadi yang menghasilkan $100 juta dolar setiap tahun untuk upaya pelestarian planet.
“Alih-alih mengekstraksi nilai dari alam untuk memperkaya investor, kami akan menggunakan kekayaan Patagonia untuk melindungi alam itu sendiri,” jelasnya kepada staf dan pelanggan. Dia mengubah makna langkah tersebut: “Kami tidak go public—kami go public dengan tujuan.”
Transformasi ini mengungkap sesuatu yang jarang dibahas dalam lingkaran bisnis: kekosongan yang dialami beberapa orang saat mengejar kesuksesan konvensional. Kesediaan Chouinard untuk menolak status miliarder yang paling diidamkan menunjukkan pertanyaan yang lebih dalam bagi pengusaha di mana-mana—untuk apa sebenarnya kekayaan itu?