Krisis Usia Pensiun di Jepang: Ketika Bekerja Hingga Usia 70 Tahun Menjadi Normal Baru

Usia pensiun di Jepang telah mengalami perubahan dramatis dalam beberapa tahun terakhir. Sementara banyak negara mempertahankan usia pensiun sekitar 60-65 tahun, Jepang telah mendorong melewati batas-batas ini sebagai respons terhadap tekanan demografis yang mendalam. Pada tahun 2021, pemerintah memperkenalkan kebijakan yang memungkinkan karyawan secara sukarela memperpanjang masa kerja hingga 70—batas yang diyakini oleh banyak pengamat akan akhirnya menjadi wajib, seperti halnya perpanjangan sebelumnya.

Pola Sejarah Kenaikan Usia Pensiun

Pendekatan Jepang terhadap pensiun mengikuti pola yang dapat diprediksi selama empat dekade terakhir. Sistem pensiun usia 60 tahun, yang didirikan pada tahun 1986, beralih menjadi status wajib pada tahun 1998. Kemudian, kerangka usia 65 tahun dimulai pada tahun 2006 dan menjadi keharusan secara universal pada tahun 2013. Perpanjangan “sukarela” hingga 70 tahun saat ini mengikuti trajektori yang sama, menunjukkan kemungkinan penerapan wajib dalam dekade berikutnya.

Perkembangan siklik ini mengungkapkan strategi pemerintah: memperkenalkan kebijakan sebagai langkah opsional terlebih dahulu, lalu secara bertahap memformalkan mereka menjadi persyaratan di seluruh tenaga kerja.

Harapan Hidup: Alasan Resmi Pemerintah

Dasar statistik yang mendukung usia pensiun yang diperpanjang di Jepang terletak pada peningkatan harapan hidup. Pada tahun 1960, pria Jepang memiliki harapan hidup rata-rata 65 tahun. Pada tahun 2022, angka ini naik menjadi 81 (, sementara wanita mencapai 87). Umur panjang yang diperpanjang ini menjadi alasan resmi untuk mempertahankan warga dalam angkatan kerja lebih lama.

Namun, argumen ini menyembunyikan realitas keuangan yang lebih dalam: sistem pensiun tidak dapat mempertahankan pensiun lebih awal. Dengan semakin sedikit pekerja muda yang memasuki pasar tenaga kerja dibandingkan dengan populasi yang menua, matematika keberlanjutan pensiun menuntut perpanjangan masa kerja.

Bom Waktu Demografis

Jepang menghadapi tekanan demografis yang membuat perpanjangan tenaga kerja secara terus-menerus tidak terelakkan. Saat ini, individu berusia 65 tahun ke atas mewakili 29% dari total populasi—angka yang diperkirakan akan mencapai 35% pada tahun 2040. Pada saat yang sama, tingkat kelahiran Jepang telah jatuh di bawah proyeksi para ahli. Pada tahun 2023, hanya sekitar 727.000 kelahiran terjadi, jauh di bawah 840.000 yang diprediksi demografer.

Piramida terbalik ini—di mana pensiunan jauh melebihi jumlah pekerja baru—menciptakan skenario pendanaan yang mustahil. Tanpa warga usia kerja yang cukup, tidak ada sistem pensiun yang dapat memberikan manfaat yang dijanjikan kepada populasi lansia yang terus berkembang.

Tekanan Ekonomi: Mengapa Pekerja Lansia Tidak Mampu Pensiun

Tekanan keuangan terhadap warga Jepang yang lebih tua melampaui rumus pensiun abstrak. Penelitian dari Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi Jepang menentukan bahwa pasangan pensiun yang membutuhkan standar hidup pasca-kerja yang nyaman memerlukan tabungan sekitar 20 juta yen di luar pembayaran pensiun pemerintah.

Mengumpulkan aset sebesar itu hampir tidak mungkin bagi keluarga Jepang rata-rata. Dekade-dekade suku bunga mendekati nol telah mengikis pertumbuhan tabungan. Pasar properti, yang dulu menjadi kendaraan pembangunan kekayaan, telah mengalami depresiasi signifikan sejak runtuhnya gelembung tahun 1990-an. Banyak keluarga memiliki “aset negatif”—properti yang nilainya lebih rendah dari hipotek yang masih harus dibayar.

Pandemi COVID-19 memperburuk tekanan ini. Depresiasi yen yang dipadukan dengan inflasi yang terus-menerus telah menurunkan daya beli, sementara pembayaran pensiun stagnan. Pekerja yang mengharapkan kenaikan gaji berbasis senioritas dalam sistem pekerjaan seumur hidup kini menemukan tabungan mereka tidak cukup untuk pensiun yang bermartabat.

Sistem Pekerjaan Seumur Hidup: Pengganti Pensiun

Tradisi tempat kerja di Jepang memperkuat pola kerja yang diperpanjang. Setelah lulus, individu yang memasuki posisi penuh waktu biasanya mendapatkan kontrak kerja seumur hidup. Gaji dan promosi meningkat secara prediktabel seiring masa kerja, bukan berdasarkan kinerja. Stabilitas ini menciptakan ketergantungan: pekerja berusia menengah dan senior yang mendapatkan gaji puncak menghadapi kehilangan pendapatan yang besar saat pensiun.

Karyawan berusia 50-60 tahun yang penghasilannya jauh lebih tinggi daripada rekan yang lebih muda tiba-tiba menghadapi pembayaran pensiun yang hanya mencakup sebagian dari pendapatan sebelumnya. Stabilitas ekonomi keluarga bergantung pada kelanjutan pekerjaan. Dalam kondisi seperti ini, “pensiun” menjadi kemewahan yang hanya bisa dinikmati orang kaya.

Realitas: Pekerja Lansia di Sektor Jasa Jepang

Jalan-jalan di Jepang menunjukkan konsekuensi dari sistem ini. Saat ini, sekitar satu dari tujuh pekerja berusia lebih dari 60 tahun. Pada tahun 2017 saja, Jepang mempekerjakan 9,12 juta pekerja lansia. Proporsi ini telah meningkat secara stabil selama dua dekade.

Setelah pensiun formal, banyak warga senior Jepang dipekerjakan kembali oleh perusahaan sebagai pekerja kontrak dalam posisi layanan dengan upah lebih rendah: kasir supermarket, pengemudi taksi, staf hotel, dan pengelola apartemen. Pengusaha mendapatkan manfaat dari biaya tenaga kerja yang minimal dan penghindaran kewajiban manfaat dibandingkan merekrut pekerja muda. Lansia menerima penghasilan tambahan yang mempertahankan standar hidup keluarga.

Studi Kasus dalam Keteguhan

Kasus individu menggambarkan pola yang lebih luas. Tamiko Honda, wanita tertua yang bekerja di McDonald’s di Jepang pada usia 91 tahun, tetap bekerja lima hari seminggu sebagai pembersih di Kota Kumamoto meskipun pendengaran dan penglihatannya menurun. Yoshimitsu Yabuta, rekan pria berusia 96 tahun, bekerja empat hari seminggu dalam shift malam di Prefektur Toyama.

Keduanya menyebut kesehatan dan koneksi sosial sebagai motivasi. Mr. Yabuta menyatakan niatnya untuk bekerja hingga usia 100 tahun jika secara fisik memungkinkan. Kasus mereka menginspirasi banyak warga senior Jepang lainnya, memandang pekerjaan lanjutan sebagai peningkatan gaya hidup daripada keputusasaan finansial.

Kebenaran Tidak Nyaman di Balik Narasi Publik

Sementara media merayakan pekerja super-usia dengan menekankan vitalitas dan tujuan, kenyataannya lebih rumit. Kebanyakan warga senior Jepang tidak memiliki ketahanan fisik atau status kesehatan yang memungkinkan mereka bekerja dengan semangat. Aspirasi umum adalah pensiun santai—bukan keterlibatan di tempat kerja.

Kesenjangan antara narasi budaya yang merayakan pekerja senior dan keinginan nyata untuk beristirahat tetap besar. Namun, kebutuhan ekonomi mengubah aspirasi menjadi kewajiban.

Tekanan Sistemik Tanpa Penyelesaian

Situasi Jepang mencerminkan tantangan struktural: kurangnya generasi muda untuk mendanai populasi lansia yang terus bertambah, mekanisme tabungan pribadi yang tidak memadai, nilai aset yang menurun, dan pembayaran pensiun yang stagnan di tengah inflasi. Usia pensiun di Jepang kemungkinan akan terus diperpanjang karena matematika demografis yang tak terelakkan.

Bagi masyarakat Jepang, ini bukan pilihan gaya hidup sukarela tetapi adaptasi wajib terhadap ekonomi yang tidak memungkinkan. Warga harus bekerja lebih lama bukan karena keinginan, tetapi karena tidak ada alternatif yang layak.

Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
0/400
Tidak ada komentar
  • Sematkan

Perdagangkan Kripto Di Mana Saja Kapan Saja
qrCode
Pindai untuk mengunduh aplikasi Gate
Komunitas
Bahasa Indonesia
  • 简体中文
  • English
  • Tiếng Việt
  • 繁體中文
  • Español
  • Русский
  • Français (Afrique)
  • Português (Portugal)
  • Bahasa Indonesia
  • 日本語
  • بالعربية
  • Українська
  • Português (Brasil)