Anda mungkin pernah mendengar argumen ini sebelumnya: jika kita menurunkan pajak untuk orang kaya dan perusahaan, mereka akan berinvestasi lebih banyak, mempekerjakan lebih banyak pekerja, dan pertumbuhan ekonomi akan menguntungkan semua orang. Ini adalah premis inti dari ekonomi trikel-down. Tapi begini—ketika Anda benar-benar memeriksa apa yang terjadi dalam praktiknya, narasi ini dengan cepat runtuh.
Bagaimana Teori Seharusnya Bekerja
Gagasan dasar di balik ekonomi trikel-down cukup sederhana. Berikan lebih banyak modal kepada mereka yang berada di puncak tangga penghasilan, dan mereka akan menggunakannya secara produktif. Investasi bisnis yang lebih banyak akan menghasilkan penciptaan lapangan kerja, peningkatan produktivitas, dan akhirnya, kemakmuran yang “mengalir” ke seluruh masyarakat. Ini adalah argumen intuitif yang menarik bagi pembuat kebijakan yang mencari solusi sederhana untuk stagnasi ekonomi.
Pemotongan pajak untuk perusahaan dan penghasilan tinggi adalah alat kebijakan yang biasa digunakan. Teorinya: terbebas dari beban pajak yang lebih tinggi, bisnis dan individu kaya akan mengarahkan tabungan tersebut ke ekspansi operasi, peluncuran usaha baru, dan perekrutan pekerja. Aktivitas ekonomi yang meningkat ini kemudian harus menghasilkan manfaat yang lebih luas bagi seluruh populasi.
Pemeriksaan Realitas: Apa yang Data Tunjukkan Sebenarnya
Di sinilah ekonomi trikel-down menghadapi masalah serius. Setelah puluhan tahun penerapan di berbagai negara, bukti empirisnya kurang memuaskan. Studi demi studi gagal menemukan hubungan yang konsisten dan signifikan antara pemotongan pajak untuk orang kaya dan pertumbuhan ekonomi yang berarti atau penciptaan lapangan kerja.
Sebaliknya, apa yang sebenarnya kita amati cukup berbeda. Ketika kebijakan trikel-down diterapkan, konsentrasi kekayaan sering meningkat daripada menurun. Kesenjangan antara kaya dan miskin cenderung melebar, bukan menyempit. Sementara itu, investasi tidak selalu berujung pada perbaikan ekonomi yang luas—modal sering mengalir ke aset keuangan, pengembalian pemegang saham, atau merger daripada ekspansi produktif dan pertumbuhan lapangan kerja yang nyata.
Masalah Inti dari Pendekatan Ini
Beberapa masalah mendasar mengganggu ekonomi trikel-down sebagai kerangka kebijakan:
Dasar Bukti yang Lemah: Meski dipromosikan selama puluhan tahun, tidak ada bukti empiris yang kuat yang menunjukkan bahwa pemotongan pajak untuk orang kaya secara andal menghasilkan manfaat ekonomi yang dijanjikan. Ketika studi yang ketat mengendalikan variabel lain, efek trikel-down yang dijanjikan sebagian besar menghilang.
Ketimpangan yang Memburuk: Negara dan periode yang mengadopsi kebijakan trikel-down tidak melihat pengurangan ketimpangan—sebaliknya, ketimpangan justru membesar. Orang kaya mengakumulasi keuntungan, tetapi pekerja tidak mengalami peningkatan yang sepadan dalam kondisi ekonomi mereka.
Prioritas yang Tidak Sejalan: Dengan memprioritaskan konsumsi dan insentif investasi di kalangan atas, ekonomi trikel-down sering mengabaikan investasi dalam barang publik. Kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur—fondasi kemakmuran jangka panjang—diabaikan ketika sumber daya mengalir secara preferensial ke pemotongan pajak.
Investasi Tidak Sama dengan Pertumbuhan: Lebih banyak modal yang tersedia untuk orang kaya tidak otomatis berarti investasi yang produktif. Uang sering digunakan untuk spekulasi, rekayasa keuangan, atau gelembung aset daripada kegiatan ekonomi yang benar-benar produktif.
Apa yang Lebih Baik dan Efektif
Para ekonom semakin menunjukkan kerangka kebijakan alternatif yang lebih efektif sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Investasi langsung dalam pendidikan menciptakan tenaga kerja yang lebih terampil. Peningkatan infrastruktur mengurangi biaya bisnis dan meningkatkan produktivitas. Memperluas akses ke layanan kesehatan menghilangkan hambatan untuk partisipasi ekonomi. Penguatan upah minimum memastikan pekerja mendapatkan bagian yang lebih besar dari nilai yang mereka hasilkan.
Kebijakan yang berfokus pada pertumbuhan pendapatan secara luas dan distribusi peluang yang adil cenderung menghasilkan perbaikan ekonomi yang lebih konsisten dan berkelanjutan daripada mengandalkan efek trikel-down.
Kesimpulan
Ekonomi trikel-down tetap populer di kalangan politik, tetapi bukti ekonomi yang menentangnya sangat besar. Teori ini terdengar menarik karena menjanjikan sesuatu tanpa harus berbagi—pertumbuhan ekonomi tanpa redistribusi. Tapi premis itu tidak bertahan di bawah pengujian. Pertumbuhan ekonomi yang nyata dan berkelanjutan membutuhkan investasi di seluruh masyarakat, bukan hanya di puncaknya. Sampai pembuat kebijakan mengalihkan fokus dari memperkaya mereka yang sudah di atas ke membangun peluang untuk semua, kita akan terus mengejar janji efek trikel-down yang jarang terwujud.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Memahami Ekonomi Trickle Down: Mengapa Teori Tidak Sesuai dengan Kenyataan
Anda mungkin pernah mendengar argumen ini sebelumnya: jika kita menurunkan pajak untuk orang kaya dan perusahaan, mereka akan berinvestasi lebih banyak, mempekerjakan lebih banyak pekerja, dan pertumbuhan ekonomi akan menguntungkan semua orang. Ini adalah premis inti dari ekonomi trikel-down. Tapi begini—ketika Anda benar-benar memeriksa apa yang terjadi dalam praktiknya, narasi ini dengan cepat runtuh.
Bagaimana Teori Seharusnya Bekerja
Gagasan dasar di balik ekonomi trikel-down cukup sederhana. Berikan lebih banyak modal kepada mereka yang berada di puncak tangga penghasilan, dan mereka akan menggunakannya secara produktif. Investasi bisnis yang lebih banyak akan menghasilkan penciptaan lapangan kerja, peningkatan produktivitas, dan akhirnya, kemakmuran yang “mengalir” ke seluruh masyarakat. Ini adalah argumen intuitif yang menarik bagi pembuat kebijakan yang mencari solusi sederhana untuk stagnasi ekonomi.
Pemotongan pajak untuk perusahaan dan penghasilan tinggi adalah alat kebijakan yang biasa digunakan. Teorinya: terbebas dari beban pajak yang lebih tinggi, bisnis dan individu kaya akan mengarahkan tabungan tersebut ke ekspansi operasi, peluncuran usaha baru, dan perekrutan pekerja. Aktivitas ekonomi yang meningkat ini kemudian harus menghasilkan manfaat yang lebih luas bagi seluruh populasi.
Pemeriksaan Realitas: Apa yang Data Tunjukkan Sebenarnya
Di sinilah ekonomi trikel-down menghadapi masalah serius. Setelah puluhan tahun penerapan di berbagai negara, bukti empirisnya kurang memuaskan. Studi demi studi gagal menemukan hubungan yang konsisten dan signifikan antara pemotongan pajak untuk orang kaya dan pertumbuhan ekonomi yang berarti atau penciptaan lapangan kerja.
Sebaliknya, apa yang sebenarnya kita amati cukup berbeda. Ketika kebijakan trikel-down diterapkan, konsentrasi kekayaan sering meningkat daripada menurun. Kesenjangan antara kaya dan miskin cenderung melebar, bukan menyempit. Sementara itu, investasi tidak selalu berujung pada perbaikan ekonomi yang luas—modal sering mengalir ke aset keuangan, pengembalian pemegang saham, atau merger daripada ekspansi produktif dan pertumbuhan lapangan kerja yang nyata.
Masalah Inti dari Pendekatan Ini
Beberapa masalah mendasar mengganggu ekonomi trikel-down sebagai kerangka kebijakan:
Dasar Bukti yang Lemah: Meski dipromosikan selama puluhan tahun, tidak ada bukti empiris yang kuat yang menunjukkan bahwa pemotongan pajak untuk orang kaya secara andal menghasilkan manfaat ekonomi yang dijanjikan. Ketika studi yang ketat mengendalikan variabel lain, efek trikel-down yang dijanjikan sebagian besar menghilang.
Ketimpangan yang Memburuk: Negara dan periode yang mengadopsi kebijakan trikel-down tidak melihat pengurangan ketimpangan—sebaliknya, ketimpangan justru membesar. Orang kaya mengakumulasi keuntungan, tetapi pekerja tidak mengalami peningkatan yang sepadan dalam kondisi ekonomi mereka.
Prioritas yang Tidak Sejalan: Dengan memprioritaskan konsumsi dan insentif investasi di kalangan atas, ekonomi trikel-down sering mengabaikan investasi dalam barang publik. Kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur—fondasi kemakmuran jangka panjang—diabaikan ketika sumber daya mengalir secara preferensial ke pemotongan pajak.
Investasi Tidak Sama dengan Pertumbuhan: Lebih banyak modal yang tersedia untuk orang kaya tidak otomatis berarti investasi yang produktif. Uang sering digunakan untuk spekulasi, rekayasa keuangan, atau gelembung aset daripada kegiatan ekonomi yang benar-benar produktif.
Apa yang Lebih Baik dan Efektif
Para ekonom semakin menunjukkan kerangka kebijakan alternatif yang lebih efektif sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Investasi langsung dalam pendidikan menciptakan tenaga kerja yang lebih terampil. Peningkatan infrastruktur mengurangi biaya bisnis dan meningkatkan produktivitas. Memperluas akses ke layanan kesehatan menghilangkan hambatan untuk partisipasi ekonomi. Penguatan upah minimum memastikan pekerja mendapatkan bagian yang lebih besar dari nilai yang mereka hasilkan.
Kebijakan yang berfokus pada pertumbuhan pendapatan secara luas dan distribusi peluang yang adil cenderung menghasilkan perbaikan ekonomi yang lebih konsisten dan berkelanjutan daripada mengandalkan efek trikel-down.
Kesimpulan
Ekonomi trikel-down tetap populer di kalangan politik, tetapi bukti ekonomi yang menentangnya sangat besar. Teori ini terdengar menarik karena menjanjikan sesuatu tanpa harus berbagi—pertumbuhan ekonomi tanpa redistribusi. Tapi premis itu tidak bertahan di bawah pengujian. Pertumbuhan ekonomi yang nyata dan berkelanjutan membutuhkan investasi di seluruh masyarakat, bukan hanya di puncaknya. Sampai pembuat kebijakan mengalihkan fokus dari memperkaya mereka yang sudah di atas ke membangun peluang untuk semua, kita akan terus mengejar janji efek trikel-down yang jarang terwujud.