Ketika moving average jangka pendek turun di bawah moving average jangka panjang, terjadi apa yang dikenal di pasar sebagai death cross. Pola teknikal ini dianggap sebagai salah satu indikator terpenting untuk mengantisipasi perubahan signifikan dalam tren pasar, baik di saham maupun di kripto.
Mengapa trader takut dengan death cross?
Berbeda dengan indikator lain, death cross telah terbukti cukup efektif sepanjang sejarah. Pasar saham mengalami penurunan drastis pada tahun 2008 dan pertengahan 70-an, saat pola ini sudah memberikan peringatan. Di dunia kripto, juga berfungsi sebagai prediktor yang dapat diandalkan untuk pasar bearish yang signifikan.
Alasannya sederhana: ketika tren jangka pendek menyerah kepada tren jangka panjang, ini menandakan perubahan fundamental dalam perilaku pasar. Investor yang mengenali momen ini dapat mengambil keputusan secara anticipatif dan menghindari kerugian besar.
Cara mengidentifikasi death cross secara praktis
Sinyal paling jelas terjadi saat simple moving average (SMA) 50 hari turun di bawah SMA 200 hari. Meskipun beberapa trader menggunakan periode berbeda seperti 30 dan 100 hari untuk sinyal lebih awal, kombinasi 50/200 adalah yang paling umum di industri.
Identifikasi ini semakin kuat ketika disertai volume perdagangan yang meningkat. Volume tinggi saat crossing ini menunjukkan banyak trader menjual secara bersamaan, mengonfirmasi bahwa tren bearish ini otentik dan bukan sekadar koreksi sementara.
Tiga fase death cross yang harus Anda ketahui
Fase pertama: Tren jangka panjang masih bullish, tetapi mulai menunjukkan kelemahan.
Fase kedua: Moving average jangka pendek melewati di bawah tren jangka panjang, yang juga sudah mulai menurun. Pada titik ini, kedua tren bergerak ke bawah, mempercepat penurunan.
Fase ketiga: Setelah crossing, beberapa trader menunggu konfirmasi tambahan untuk bertindak. Yang lain langsung masuk posisi pendek. Keuntungan dari bertindak cepat adalah menangkap sebagian besar pergerakan turun, tetapi risikonya adalah tertipu sinyal palsu.
Death cross di Bitcoin dan aset lainnya
Pada Januari 2022, Bitcoin menunjukkan death cross yang diikuti oleh penurunan tajam. Harga turun dari USD 66.000 pada November 2021 hingga sekitar USD 36.000 beberapa bulan kemudian, kehilangan hampir setengah nilainya. Pada Mei 2022, harga berada di bawah USD 30.000.
Tesla juga menunjukkan death cross pada awal Juli 2021, dengan SMA 50 hari turun di bawah USD 630 sementara SMA 200 hari naik ke USD 630,76. Kemudian, pada Februari 2022, pola ini terbentuk lagi saat rata-rata 50 hari melintasi di bawah rata-rata 100 hari.
S&P 500, sejak 1970, telah menghasilkan 25 death cross. Salah satu yang paling terkenal terjadi pada Desember 2007, tepat sebelum krisis keuangan global. Yang terbaru terbentuk pada Maret 2022, menandai pertama kalinya dalam dua tahun indeks menunjukkan pola bearish ini.
Apa kelemahan dari death cross?
Keterbatasan utamanya adalah bahwa ini adalah indikator tertinggal. Persilangan moving average sering terjadi jauh setelah tren benar-benar berbalik dari naik ke turun. Pada saat itu, harga sudah turun secara signifikan, menandakan bahwa sebagian besar pergerakan bearish telah terjadi.
Beberapa analis mengatasi keterbatasan ini dengan menggunakan variasi: mereka memantau apakah harga turun di bawah moving average 200 hari daripada menunggu persilangan kedua MA. Sinyal ini cenderung muncul lebih awal daripada death cross tradisional.
Selain itu, seperti indikator teknikal lain, death cross dapat menghasilkan sinyal palsu, terutama di pasar lateral atau saat terjadi koreksi kecil tanpa perubahan tren yang nyata.
Konfirmasi dengan indikator lain
Untuk meningkatkan keandalan, trader menggabungkan death cross dengan indikator teknikal lain. MACD sangat berguna karena momentum tren jangka panjang sering melemah sebelum pergeseran pasar terjadi. Volume perdagangan juga berfungsi sebagai penguat: volume yang lebih besar selama death cross meningkatkan kemungkinan tren bearish yang nyata.
Kebalikannya: Golden Cross
Jika death cross menunjukkan perubahan menuju pasar bearish, maka golden cross adalah kebalikannya yang bullish. Terjadi saat moving average jangka pendek naik di atas jangka panjang. Kedua pola ini menandai pembalikan tren, tetapi dalam arah yang berlawanan.
Selama golden cross, rata-rata 50 hari yang sebelumnya jauh di bawah 200 hari mulai naik, menunjukkan bahwa performa terbaru lebih baik dari rata-rata jangka panjang. Ini adalah saat banyak trader kembali membuka posisi long, berharap pasar memulai pemulihan yang berkelanjutan.
Kesimpulan: Alat yang berharga dengan keterbatasan
Death cross layak dimasukkan ke dalam arsenal teknikal trader mana pun. Telah terbukti akurat dalam mengantisipasi penurunan besar pasar selama beberapa dekade. Namun, tidak boleh digunakan secara terpisah.
Keefektifan sejati death cross muncul saat dikombinasikan dengan analisis volume, indikator teknikal lain seperti MACD, dan konteks pasar secara umum. Ini adalah indikator tertinggal, ya, tetapi itu tidak membuatnya tidak berguna—hanya berarti harus diinterpretasikan sebagai konfirmasi tren yang sudah mulai berubah, bukan sebagai prediktor masa depan.
Para operator yang memahami kekuatan dan kelemahan keduanya dapat menggunakannya secara strategis untuk meningkatkan keputusan masuk dan keluar pasar.
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Death Cross di kripto dan saham: Sinyal yang diawasi oleh semua trader
Ketika moving average jangka pendek turun di bawah moving average jangka panjang, terjadi apa yang dikenal di pasar sebagai death cross. Pola teknikal ini dianggap sebagai salah satu indikator terpenting untuk mengantisipasi perubahan signifikan dalam tren pasar, baik di saham maupun di kripto.
Mengapa trader takut dengan death cross?
Berbeda dengan indikator lain, death cross telah terbukti cukup efektif sepanjang sejarah. Pasar saham mengalami penurunan drastis pada tahun 2008 dan pertengahan 70-an, saat pola ini sudah memberikan peringatan. Di dunia kripto, juga berfungsi sebagai prediktor yang dapat diandalkan untuk pasar bearish yang signifikan.
Alasannya sederhana: ketika tren jangka pendek menyerah kepada tren jangka panjang, ini menandakan perubahan fundamental dalam perilaku pasar. Investor yang mengenali momen ini dapat mengambil keputusan secara anticipatif dan menghindari kerugian besar.
Cara mengidentifikasi death cross secara praktis
Sinyal paling jelas terjadi saat simple moving average (SMA) 50 hari turun di bawah SMA 200 hari. Meskipun beberapa trader menggunakan periode berbeda seperti 30 dan 100 hari untuk sinyal lebih awal, kombinasi 50/200 adalah yang paling umum di industri.
Identifikasi ini semakin kuat ketika disertai volume perdagangan yang meningkat. Volume tinggi saat crossing ini menunjukkan banyak trader menjual secara bersamaan, mengonfirmasi bahwa tren bearish ini otentik dan bukan sekadar koreksi sementara.
Tiga fase death cross yang harus Anda ketahui
Fase pertama: Tren jangka panjang masih bullish, tetapi mulai menunjukkan kelemahan.
Fase kedua: Moving average jangka pendek melewati di bawah tren jangka panjang, yang juga sudah mulai menurun. Pada titik ini, kedua tren bergerak ke bawah, mempercepat penurunan.
Fase ketiga: Setelah crossing, beberapa trader menunggu konfirmasi tambahan untuk bertindak. Yang lain langsung masuk posisi pendek. Keuntungan dari bertindak cepat adalah menangkap sebagian besar pergerakan turun, tetapi risikonya adalah tertipu sinyal palsu.
Death cross di Bitcoin dan aset lainnya
Pada Januari 2022, Bitcoin menunjukkan death cross yang diikuti oleh penurunan tajam. Harga turun dari USD 66.000 pada November 2021 hingga sekitar USD 36.000 beberapa bulan kemudian, kehilangan hampir setengah nilainya. Pada Mei 2022, harga berada di bawah USD 30.000.
Tesla juga menunjukkan death cross pada awal Juli 2021, dengan SMA 50 hari turun di bawah USD 630 sementara SMA 200 hari naik ke USD 630,76. Kemudian, pada Februari 2022, pola ini terbentuk lagi saat rata-rata 50 hari melintasi di bawah rata-rata 100 hari.
S&P 500, sejak 1970, telah menghasilkan 25 death cross. Salah satu yang paling terkenal terjadi pada Desember 2007, tepat sebelum krisis keuangan global. Yang terbaru terbentuk pada Maret 2022, menandai pertama kalinya dalam dua tahun indeks menunjukkan pola bearish ini.
Apa kelemahan dari death cross?
Keterbatasan utamanya adalah bahwa ini adalah indikator tertinggal. Persilangan moving average sering terjadi jauh setelah tren benar-benar berbalik dari naik ke turun. Pada saat itu, harga sudah turun secara signifikan, menandakan bahwa sebagian besar pergerakan bearish telah terjadi.
Beberapa analis mengatasi keterbatasan ini dengan menggunakan variasi: mereka memantau apakah harga turun di bawah moving average 200 hari daripada menunggu persilangan kedua MA. Sinyal ini cenderung muncul lebih awal daripada death cross tradisional.
Selain itu, seperti indikator teknikal lain, death cross dapat menghasilkan sinyal palsu, terutama di pasar lateral atau saat terjadi koreksi kecil tanpa perubahan tren yang nyata.
Konfirmasi dengan indikator lain
Untuk meningkatkan keandalan, trader menggabungkan death cross dengan indikator teknikal lain. MACD sangat berguna karena momentum tren jangka panjang sering melemah sebelum pergeseran pasar terjadi. Volume perdagangan juga berfungsi sebagai penguat: volume yang lebih besar selama death cross meningkatkan kemungkinan tren bearish yang nyata.
Kebalikannya: Golden Cross
Jika death cross menunjukkan perubahan menuju pasar bearish, maka golden cross adalah kebalikannya yang bullish. Terjadi saat moving average jangka pendek naik di atas jangka panjang. Kedua pola ini menandai pembalikan tren, tetapi dalam arah yang berlawanan.
Selama golden cross, rata-rata 50 hari yang sebelumnya jauh di bawah 200 hari mulai naik, menunjukkan bahwa performa terbaru lebih baik dari rata-rata jangka panjang. Ini adalah saat banyak trader kembali membuka posisi long, berharap pasar memulai pemulihan yang berkelanjutan.
Kesimpulan: Alat yang berharga dengan keterbatasan
Death cross layak dimasukkan ke dalam arsenal teknikal trader mana pun. Telah terbukti akurat dalam mengantisipasi penurunan besar pasar selama beberapa dekade. Namun, tidak boleh digunakan secara terpisah.
Keefektifan sejati death cross muncul saat dikombinasikan dengan analisis volume, indikator teknikal lain seperti MACD, dan konteks pasar secara umum. Ini adalah indikator tertinggal, ya, tetapi itu tidak membuatnya tidak berguna—hanya berarti harus diinterpretasikan sebagai konfirmasi tren yang sudah mulai berubah, bukan sebagai prediktor masa depan.
Para operator yang memahami kekuatan dan kelemahan keduanya dapat menggunakannya secara strategis untuk meningkatkan keputusan masuk dan keluar pasar.