Masalah deflasi yang sedang melanda pasar global bukan hanya salah satu faktor ekonomi sesaat, tetapi sebuah fenomena yang dapat berdampak langsung pada pengelolaan sumber daya rumah tangga dan perencanaan investasi para investor. Artikel ini akan membantu Anda memahami lebih dalam tentang deflasi, penyebabnya dan bagaimana menyesuaikan diri menghadapi situasi ini.
Deflasi adalah musuh diam-diam yang mengurangi realitas harga
Deflasi (Deflation) bukanlah fenomena yang dipahami dengan jelas oleh banyak orang. Meskipun merupakan masalah yang lebih dalam daripada inflasi, sifat dari deflasi adalah penurunan tingkat harga barang, jasa, dan aset secara umum dalam periode waktu yang diperpanjang dalam gambaran sistem ekonomi.
Fakta penting adalah, ketika deflasi terjadi, nilai uang tunai akan meningkat, sehingga setiap satuan uang yang Anda miliki memiliki daya beli yang lebih besar dari sebelumnya. Namun, hal ini tidak selalu berarti berita baik di semua aspek, karena penurunan harga tersebut menandakan perlambatan aktivitas ekonomi secara keseluruhan.
Penyebab deflasi: Tinjau kembali untuk pemahaman yang lebih dalam
Deflasi tidak terjadi secara kebetulan, melainkan berasal dari berbagai faktor yang saling terkait secara kompleks.
Masalah permintaan: masyarakat berhenti membeli
Ketika masyarakat mulai khawatir tentang masa depan ekonomi, mereka cenderung mengurangi pengeluaran secara signifikan. Beban utang meningkat, pengangguran meningkat, dan pendapatan bersih menurun, menjadi sinyal peringatan agar konsumen menabung untuk cadangan. Sektor bisnis pun mengalami penurunan permintaan barang dan jasa secara jelas.
Masalah penawaran: teknologi menurunkan biaya produksi
Kadang-kadang, kemajuan teknologi dan peningkatan efisiensi produksi (Productivity) dapat menurunkan biaya produksi. Produsen pun menurunkan harga barang untuk bersaing. Data penting adalah, pada April 2020, indeks harga konsumen (CPI) Thailand turun hingga -2.99% secara tahunan, merupakan tingkat kontraksi terparah dalam 10 tahun 9 bulan.
Masalah keuangan: kebijakan pemerintah yang tidak tepat
Pemerintah mungkin melakukan kesalahan dalam menjalankan kebijakan moneter dan fiskal, seperti menaikkan suku bunga terlalu tinggi, menetapkan pajak yang terlalu berat, atau mencetak uang secara berlebihan yang tidak memenuhi kebutuhan ekonomi. Ketika uang beredar tidak cukup, suku bunga pun meningkat, menyebabkan pinjaman untuk investasi menurun.
Aliran keluar modal: masalah berlapis
Pengiriman modal keluar negeri, baik secara legal maupun ilegal, dalam jangka waktu lama, menyebabkan jumlah uang di dalam negeri berkurang. Hal ini menyebabkan suku bunga meningkat dan ekonomi semakin terkait dengan masalah lainnya.
Kehidupan nyata: contoh deflasi dalam sejarah
The Great Depression: pelajaran yang tak terlupakan
Amerika Serikat tahun 1929-1932 mengalami resesi terbesar dalam sejarah. Pasar saham jatuh tajam sejak 4 September 1929 yang dikenal sebagai “Black Tuesday”. Dampaknya menyebar ke seluruh dunia:
PDB menurun lebih dari 15%
Volume perdagangan internasional turun lebih dari 50%
Tingkat pengangguran di AS mencapai 23%, dan beberapa negara hingga 33%
Harga hasil pertanian turun lebih dari 60%
Dampak berlangsung hingga awal Perang Dunia II
Situasi di Thailand: belum masuk zona bahaya penuh
Meskipun Thailand mengalami deflasi selama tiga bulan sejak Maret 2020, belum memenuhi definisi deflasi secara penuh. Perkiraan inflasi 5 tahun ke depan tetap di 1.8%, berada dalam target 1-3%, dan perkiraan Bank Sentral Thailand menunjukkan bahwa harga barang dan jasa cenderung meningkat dari -1.7% di 2020 menjadi 0.9% di 2021.
Namun, jika ekonomi global dan Thailand mengalami kontraksi lebih dalam atau pemulihan terlalu lambat, risiko masuk ke kondisi deflasi tetap ada.
Dampak: Siapa yang paling terdampak deflasi?
Mereka yang diuntungkan dari deflasi
Penerima pendapatan tetap - Daya beli gaji otomatis meningkat karena uang menjadi lebih berharga
Pemberi pinjaman - Utang yang harus dibayar oleh debitur memiliki nilai real tetap, tetapi apa yang bisa dikumpulkan debitur berkurang
Pemegang uang tunai - Memegang uang tunai menjadi investasi otomatis
Mereka yang dirugikan dari deflasi
Pengusaha - Keuntungan menurun saat harus menurunkan harga, dan piutang utang menjadi lebih berharga
Pemegang saham - Nilai saham menurun
Lembaga keuangan - Pendapatan dari pemberian kredit berkurang
Investasi apa yang baik selama deflasi: berpikir jangka panjang
Instrumen utang: fondasi yang kokoh
Selama deflasi, Bank Sentral Thailand biasanya menurunkan suku bunga, sehingga nilai instrumen utang yang sudah diterbitkan meningkat. Investor disarankan memilih instrumen yang memiliki kepercayaan tinggi, seperti obligasi pemerintah, karena memberikan hasil yang stabil dan risiko yang lebih rendah.
Instrumen ekuitas: saham berkualitas sebagai pilihan
Meski pasar saham cenderung turun dalam kondisi deflasi, saham dari perusahaan dengan kinerja kuat dan bisnis yang penting dalam kehidupan sehari-hari tetap mampu memberikan hasil, seperti makanan dan minuman, barang konsumsi. Jika dipilih dengan hati-hati, harga saham akan kembali mencerminkan nilai sebenarnya perusahaan saat pasar normal.
Properti: peluang bagi yang punya dana dingin
Dalam masa deflasi, seringkali pemilik properti harus menjual secara mendadak dengan harga lebih murah. Ini membuka peluang bagi mereka yang memiliki uang tunai untuk membeli dengan harga yang baik. Namun, investasi di bidang ini harus mempertimbangkan lokasi dan potensi pengembalian jangka panjang.
Emas: diversifikasi risiko yang baik
Harga emas biasanya naik selama deflasi karena nilai strukturnya yang stabil. Investor dapat membeli emas saat harga rendah ini untuk spekulasi dan juga sebagai diversifikasi risiko yang efektif.
Trading CFD: mencari keuntungan dari kedua arah
Selain membeli saham, investor dapat mempertimbangkan menjual Short saham atau menggunakan Put DW sebagai lindung nilai terhadap penurunan. Ada juga metode trading CFD yang memungkinkan investor mendapatkan keuntungan baik dari kenaikan maupun penurunan harga tanpa harus memiliki aset tersebut secara fisik.
Persiapan menghadapi deflasi: rencanakan dengan cerdas
Diversifikasi uang tunai - Memegang sebagian uang tunai saat ini adalah langkah cerdas
Pelajari dan analisis - Sebelum berinvestasi, pelajari dasar-dasar perusahaan, aset, dan pasar
Kelola risiko - Gunakan teknik diversifikasi beli dan jual, serta ambil keuntungan/stop loss
Investasi di bisnis esensial - Pilih berinvestasi di perusahaan yang menyediakan produk, layanan, atau solusi yang tetap dibutuhkan orang meskipun ekonomi sedang lesu
Kesimpulan: jangan biarkan deflasi menentukan keputusan Anda
Deflasi adalah fenomena yang menantang, tetapi bukan akhir dari segalanya. Ketika pekerja berpendapatan tetap memahami deflasi, penyebabnya yang sesungguhnya, mereka akan tahu bagaimana berinvestasi secara bijak. Apapun teknik yang dipilih, prinsip utama adalah melakukan studi mendalam, menghitung risiko, dan mempertahankan kepemilikan saham dalam jangka panjang. Pada akhirnya, mereka yang tidak mudah menyerah dan terkadang ekonomi yang melemah justru menjadi peluang untuk membangun fondasi baru dan mencapai pertumbuhan yang lebih besar.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Deflasi: Penyebab Nyata dan Cara Berinvestasi agar Berhasil selama Perlambatan Ekonomi
Masalah deflasi yang sedang melanda pasar global bukan hanya salah satu faktor ekonomi sesaat, tetapi sebuah fenomena yang dapat berdampak langsung pada pengelolaan sumber daya rumah tangga dan perencanaan investasi para investor. Artikel ini akan membantu Anda memahami lebih dalam tentang deflasi, penyebabnya dan bagaimana menyesuaikan diri menghadapi situasi ini.
Deflasi adalah musuh diam-diam yang mengurangi realitas harga
Deflasi (Deflation) bukanlah fenomena yang dipahami dengan jelas oleh banyak orang. Meskipun merupakan masalah yang lebih dalam daripada inflasi, sifat dari deflasi adalah penurunan tingkat harga barang, jasa, dan aset secara umum dalam periode waktu yang diperpanjang dalam gambaran sistem ekonomi.
Fakta penting adalah, ketika deflasi terjadi, nilai uang tunai akan meningkat, sehingga setiap satuan uang yang Anda miliki memiliki daya beli yang lebih besar dari sebelumnya. Namun, hal ini tidak selalu berarti berita baik di semua aspek, karena penurunan harga tersebut menandakan perlambatan aktivitas ekonomi secara keseluruhan.
Penyebab deflasi: Tinjau kembali untuk pemahaman yang lebih dalam
Deflasi tidak terjadi secara kebetulan, melainkan berasal dari berbagai faktor yang saling terkait secara kompleks.
Masalah permintaan: masyarakat berhenti membeli
Ketika masyarakat mulai khawatir tentang masa depan ekonomi, mereka cenderung mengurangi pengeluaran secara signifikan. Beban utang meningkat, pengangguran meningkat, dan pendapatan bersih menurun, menjadi sinyal peringatan agar konsumen menabung untuk cadangan. Sektor bisnis pun mengalami penurunan permintaan barang dan jasa secara jelas.
Masalah penawaran: teknologi menurunkan biaya produksi
Kadang-kadang, kemajuan teknologi dan peningkatan efisiensi produksi (Productivity) dapat menurunkan biaya produksi. Produsen pun menurunkan harga barang untuk bersaing. Data penting adalah, pada April 2020, indeks harga konsumen (CPI) Thailand turun hingga -2.99% secara tahunan, merupakan tingkat kontraksi terparah dalam 10 tahun 9 bulan.
Masalah keuangan: kebijakan pemerintah yang tidak tepat
Pemerintah mungkin melakukan kesalahan dalam menjalankan kebijakan moneter dan fiskal, seperti menaikkan suku bunga terlalu tinggi, menetapkan pajak yang terlalu berat, atau mencetak uang secara berlebihan yang tidak memenuhi kebutuhan ekonomi. Ketika uang beredar tidak cukup, suku bunga pun meningkat, menyebabkan pinjaman untuk investasi menurun.
Aliran keluar modal: masalah berlapis
Pengiriman modal keluar negeri, baik secara legal maupun ilegal, dalam jangka waktu lama, menyebabkan jumlah uang di dalam negeri berkurang. Hal ini menyebabkan suku bunga meningkat dan ekonomi semakin terkait dengan masalah lainnya.
Kehidupan nyata: contoh deflasi dalam sejarah
The Great Depression: pelajaran yang tak terlupakan
Amerika Serikat tahun 1929-1932 mengalami resesi terbesar dalam sejarah. Pasar saham jatuh tajam sejak 4 September 1929 yang dikenal sebagai “Black Tuesday”. Dampaknya menyebar ke seluruh dunia:
Situasi di Thailand: belum masuk zona bahaya penuh
Meskipun Thailand mengalami deflasi selama tiga bulan sejak Maret 2020, belum memenuhi definisi deflasi secara penuh. Perkiraan inflasi 5 tahun ke depan tetap di 1.8%, berada dalam target 1-3%, dan perkiraan Bank Sentral Thailand menunjukkan bahwa harga barang dan jasa cenderung meningkat dari -1.7% di 2020 menjadi 0.9% di 2021.
Namun, jika ekonomi global dan Thailand mengalami kontraksi lebih dalam atau pemulihan terlalu lambat, risiko masuk ke kondisi deflasi tetap ada.
Dampak: Siapa yang paling terdampak deflasi?
Mereka yang diuntungkan dari deflasi
Mereka yang dirugikan dari deflasi
Investasi apa yang baik selama deflasi: berpikir jangka panjang
Instrumen utang: fondasi yang kokoh
Selama deflasi, Bank Sentral Thailand biasanya menurunkan suku bunga, sehingga nilai instrumen utang yang sudah diterbitkan meningkat. Investor disarankan memilih instrumen yang memiliki kepercayaan tinggi, seperti obligasi pemerintah, karena memberikan hasil yang stabil dan risiko yang lebih rendah.
Instrumen ekuitas: saham berkualitas sebagai pilihan
Meski pasar saham cenderung turun dalam kondisi deflasi, saham dari perusahaan dengan kinerja kuat dan bisnis yang penting dalam kehidupan sehari-hari tetap mampu memberikan hasil, seperti makanan dan minuman, barang konsumsi. Jika dipilih dengan hati-hati, harga saham akan kembali mencerminkan nilai sebenarnya perusahaan saat pasar normal.
Properti: peluang bagi yang punya dana dingin
Dalam masa deflasi, seringkali pemilik properti harus menjual secara mendadak dengan harga lebih murah. Ini membuka peluang bagi mereka yang memiliki uang tunai untuk membeli dengan harga yang baik. Namun, investasi di bidang ini harus mempertimbangkan lokasi dan potensi pengembalian jangka panjang.
Emas: diversifikasi risiko yang baik
Harga emas biasanya naik selama deflasi karena nilai strukturnya yang stabil. Investor dapat membeli emas saat harga rendah ini untuk spekulasi dan juga sebagai diversifikasi risiko yang efektif.
Trading CFD: mencari keuntungan dari kedua arah
Selain membeli saham, investor dapat mempertimbangkan menjual Short saham atau menggunakan Put DW sebagai lindung nilai terhadap penurunan. Ada juga metode trading CFD yang memungkinkan investor mendapatkan keuntungan baik dari kenaikan maupun penurunan harga tanpa harus memiliki aset tersebut secara fisik.
Persiapan menghadapi deflasi: rencanakan dengan cerdas
Kesimpulan: jangan biarkan deflasi menentukan keputusan Anda
Deflasi adalah fenomena yang menantang, tetapi bukan akhir dari segalanya. Ketika pekerja berpendapatan tetap memahami deflasi, penyebabnya yang sesungguhnya, mereka akan tahu bagaimana berinvestasi secara bijak. Apapun teknik yang dipilih, prinsip utama adalah melakukan studi mendalam, menghitung risiko, dan mempertahankan kepemilikan saham dalam jangka panjang. Pada akhirnya, mereka yang tidak mudah menyerah dan terkadang ekonomi yang melemah justru menjadi peluang untuk membangun fondasi baru dan mencapai pertumbuhan yang lebih besar.