Harga saham Softbank mengalami penurunan yang cukup signifikan—lebih dari 3% setelah penutupan pasar saham Tokyo—sebagai respons terhadap rapat pemegang saham tahunan perusahaan. Pendorong utamanya? Pernyataan kontroversial Masa Son tentang masa depan kecerdasan buatan dan arah strategis perusahaan.
Dari AGI ke ASI: Memahami Hierarki Kecerdasan
Selama pidatonya kepada karyawan Softbank, pendiri perusahaan menguraikan kerangka bertingkat untuk evolusi AI. Artificial General Intelligence (AGI) mewakili tonggak pertama, di mana sistem AI akan menyamai atau melebihi kemampuan jenius tingkat manusia hingga 10X lipat. Namun, fokus utama Masa Son terletak di luar AGI—pada Artificial Super Intelligence (ASI), yang dia prediksi akan melampaui kemampuan kognitif manusia hingga 10.000 kali lipat.
Garis waktu yang disampaikan Son cukup agresif: pada tahun 2030, AI akan melampaui kecerdasan manusia sebesar 1 hingga 10 kali. Dalam waktu lima tahun lagi—pada tahun 2035—kesenjangan kecerdasan itu akan berkembang secara dramatis menjadi 10.000 kali lipat dari kapasitas manusia.
Misi Pribadi yang Disamarkan sebagai Strategi Perusahaan
Yang menarik perhatian pasar bukan hanya prediksi teknologi tersebut, tetapi juga kerangka pribadi yang sangat mendalam dari Son tentang misi Softbank. Dalam pidato yang penuh emosi dan meninggalkan sedikit ruang untuk ambiguitas, dia menyatakan: “Untuk apa SoftBank didirikan? Untuk apa Masa Son dilahirkan? Mungkin terdengar aneh, tetapi saya pikir saya dilahirkan untuk mewujudkan ASI. Saya sangat serius tentang hal ini.”
Pernyataan ini—yang memadukan filsafat eksistensial dengan ambisi perusahaan—menandakan kepada investor bahwa Softbank memposisikan dirinya bukan hanya sebagai peserta dalam revolusi AI, tetapi sebagai arsitek utama dari superinteligensi itu sendiri.
Implikasi Pasar dan Industri
Respon negatif pasar mencerminkan ketidakpastian investor: Apakah ini kepemimpinan visioner atau overreach? Penurunan sebesar tiga persen menunjukkan bahwa pelaku pasar masih mencerna apa arti strategi perusahaan yang berfokus pada ASI bagi kinerja keuangan Softbank dalam jangka pendek, meskipun potensi keuntungan jangka panjangnya besar.
Bagi komunitas teknologi dan investasi yang lebih luas, pernyataan Masa Son menimbulkan pertanyaan mendasar tentang arah pengembangan AI, tanggung jawab perusahaan, dan apakah umat manusia harus merangkul atau menahan perlombaan menuju superinteligensi buatan.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Visi Berani Masa Son: Softbank Bertaruh pada AI Mencapai 10.000X Kecerdasan Manusia pada 2035
Harga saham Softbank mengalami penurunan yang cukup signifikan—lebih dari 3% setelah penutupan pasar saham Tokyo—sebagai respons terhadap rapat pemegang saham tahunan perusahaan. Pendorong utamanya? Pernyataan kontroversial Masa Son tentang masa depan kecerdasan buatan dan arah strategis perusahaan.
Dari AGI ke ASI: Memahami Hierarki Kecerdasan
Selama pidatonya kepada karyawan Softbank, pendiri perusahaan menguraikan kerangka bertingkat untuk evolusi AI. Artificial General Intelligence (AGI) mewakili tonggak pertama, di mana sistem AI akan menyamai atau melebihi kemampuan jenius tingkat manusia hingga 10X lipat. Namun, fokus utama Masa Son terletak di luar AGI—pada Artificial Super Intelligence (ASI), yang dia prediksi akan melampaui kemampuan kognitif manusia hingga 10.000 kali lipat.
Garis waktu yang disampaikan Son cukup agresif: pada tahun 2030, AI akan melampaui kecerdasan manusia sebesar 1 hingga 10 kali. Dalam waktu lima tahun lagi—pada tahun 2035—kesenjangan kecerdasan itu akan berkembang secara dramatis menjadi 10.000 kali lipat dari kapasitas manusia.
Misi Pribadi yang Disamarkan sebagai Strategi Perusahaan
Yang menarik perhatian pasar bukan hanya prediksi teknologi tersebut, tetapi juga kerangka pribadi yang sangat mendalam dari Son tentang misi Softbank. Dalam pidato yang penuh emosi dan meninggalkan sedikit ruang untuk ambiguitas, dia menyatakan: “Untuk apa SoftBank didirikan? Untuk apa Masa Son dilahirkan? Mungkin terdengar aneh, tetapi saya pikir saya dilahirkan untuk mewujudkan ASI. Saya sangat serius tentang hal ini.”
Pernyataan ini—yang memadukan filsafat eksistensial dengan ambisi perusahaan—menandakan kepada investor bahwa Softbank memposisikan dirinya bukan hanya sebagai peserta dalam revolusi AI, tetapi sebagai arsitek utama dari superinteligensi itu sendiri.
Implikasi Pasar dan Industri
Respon negatif pasar mencerminkan ketidakpastian investor: Apakah ini kepemimpinan visioner atau overreach? Penurunan sebesar tiga persen menunjukkan bahwa pelaku pasar masih mencerna apa arti strategi perusahaan yang berfokus pada ASI bagi kinerja keuangan Softbank dalam jangka pendek, meskipun potensi keuntungan jangka panjangnya besar.
Bagi komunitas teknologi dan investasi yang lebih luas, pernyataan Masa Son menimbulkan pertanyaan mendasar tentang arah pengembangan AI, tanggung jawab perusahaan, dan apakah umat manusia harus merangkul atau menahan perlombaan menuju superinteligensi buatan.