Dasar
Spot
Perdagangkan kripto dengan bebas
Perdagangan Margin
Perbesar keuntungan Anda dengan leverage
Konversi & Investasi Otomatis
0 Fees
Perdagangkan dalam ukuran berapa pun tanpa biaya dan tanpa slippage
ETF
Dapatkan eksposur ke posisi leverage dengan mudah
Perdagangan Pre-Market
Perdagangkan token baru sebelum listing
Futures
Akses ribuan kontrak perpetual
TradFi
Emas
Satu platform aset tradisional global
Opsi
Hot
Perdagangkan Opsi Vanilla ala Eropa
Akun Terpadu
Memaksimalkan efisiensi modal Anda
Perdagangan Demo
Pengantar tentang Perdagangan Futures
Bersiap untuk perdagangan futures Anda
Acara Futures
Gabung acara & dapatkan hadiah
Perdagangan Demo
Gunakan dana virtual untuk merasakan perdagangan bebas risiko
Peluncuran
CandyDrop
Koleksi permen untuk mendapatkan airdrop
Launchpool
Staking cepat, dapatkan token baru yang potensial
HODLer Airdrop
Pegang GT dan dapatkan airdrop besar secara gratis
Launchpad
Jadi yang pertama untuk proyek token besar berikutnya
Poin Alpha
Perdagangkan aset on-chain, raih airdrop
Poin Futures
Dapatkan poin futures dan klaim hadiah airdrop
Investasi
Simple Earn
Dapatkan bunga dengan token yang menganggur
Investasi Otomatis
Investasi otomatis secara teratur
Investasi Ganda
Keuntungan dari volatilitas pasar
Soft Staking
Dapatkan hadiah dengan staking fleksibel
Pinjaman Kripto
0 Fees
Menjaminkan satu kripto untuk meminjam kripto lainnya
Pusat Peminjaman
Hub Peminjaman Terpadu
Momen lucu paling menggelitik dalam teknologi tahun ini: Dari makan siang Sam Altman hingga pacar AI Elon
Tôi xin lỗi vì sự nhầm lẫn trước đó. Dưới đây là bản dịch đầy đủ và chính xác của toàn bộ nội dung nguồn sang tiếng Indonesia:
Tahun lalu, dunia teknologi menyaksikan perdebatan panas, krisis keamanan, dan akuisisi miliaran dolar. Tetapi di luar topik politik, ada aliran berita lain yang mengalir secara diam-diam—kisah lucu dan aneh yang tak terbayangkan tentang orang-orang terkenal di dunia teknologi. Inilah momen-momen yang mungkin terlewatkan di tengah lautan berita harian, tetapi benar-benar menunjukkan bahwa dunia teknologi selalu tahu cara menciptakan hal-hal yang tak terduga—bahkan sebuah cerita yang melibatkan makan siang dengan Financial Times.
Nama yang Sama, Mark Zuckerberg: Ketika Lahir dengan Nama yang Sama dengan CEO Teknologi
Bayangkan Anda seorang pengacara, bekerja keras setiap hari membangun karier, lalu secara tiba-tiba menyadari bahwa Anda memiliki nama yang sama persis dengan salah satu bos teknologi terbesar di dunia. Itulah yang dialami Mark Zuckerberg, seorang pengacara di Indiana, yang harus menghadapi kebingungan ini setiap hari.
Dia memutuskan menggunakan iklan Facebook untuk mempromosikan firma hukumnya, tetapi terus mengalami masalah. Akun Facebook-nya sering diblokir dengan alasan “menyamar Mark Zuckerberg”—padahal dia sama sekali tidak meniru siapa pun. Bahkan, dia harus membayar untuk iklan yang tidak pernah dia gunakan. Akhirnya, merasa tidak adil diperlakukan, pengacara Mark Zuckerberg memutuskan untuk menggugat CEO Mark Zuckerberg.
Untuk mengatasi kebingungan ini, dia membuat sebuah situs web bernama iammarkzuckerberg.com dengan pesan yang jelas: “Saya bukan CEO Meta.” Dia menulis bahwa, “Kadang hidup saya seperti iklan Michael Jordan, di mana orang biasa terus-menerus mengalami masalah hanya karena nama yang sama.” Kasus ini dijadwalkan akan berlangsung pada bulan Februari dan pasti akan menjadi kasus hukum yang unik.
Soham Parekh dan “Ninja Kerja” di Silicon Valley
Mewakili fenomena yang sama sekali berbeda, Soham Parekh menjadi bahan perbincangan ketika Suhail Doshi, pendiri Mixpanel, secara terbuka memperingatkan di X tentang situasinya. Parekh melakukan sesuatu yang hampir tidak pernah dilakukan orang lain: bekerja sekaligus di banyak startup berbeda.
Doshi berbagi bahwa dia mempecat Parekh di minggu pertama dan meminta dia berhenti menipu orang, tetapi setahun kemudian, Parekh tetap melanjutkan pekerjaan ini. Ketika berita ini menyebar, banyak pendiri lain juga mengungkapkan pengalaman mereka dengan Parekh. Reaksi komunitas teknologi terbagi menjadi dua: sebagian menganggap dia penipu, sementara yang lain memandangnya sebagai legenda karena kemampuannya mengelola pekerjaan di bidang yang sangat kompetitif seperti Silicon Valley.
Chris Bakke, pendiri Laskie, bercanda bahwa Soham Parekh seharusnya membuka perusahaan pelatihan wawancara, karena jelas dia adalah master dalam melewati proses wawancara. Namun, masalah yang lebih besar adalah Parekh lebih suka menerima saham daripada uang tunai, meskipun hal ini sering berakhir dengan dia dipecat dengan sangat cepat. Cerita tentang dia masih menyimpan banyak misteri yang belum terungkap.
Sam Altman dan Makan Siang Bersejarah di Financial Times: Ketika Minyak Zaitun Mahal Jadi “Bencana”
Ini adalah cerita yang mungkin paling mengejutkan. Sam Altman, CEO OpenAI, muncul dalam kolom “Lunch with the FT” dari Financial Times—sebuah makan siang biasa, di mana para pemimpin teknologi diperkenalkan kepada pembaca melalui percakapan santai dan hidangan yang elegan.
Namun, alih-alih membahas AI atau proyek masa depan OpenAI, pembaca justru memperhatikan bagaimana Sam Altman menggunakan minyak zaitun di dapur. Menurut para ahli, dia menggunakan minyak zaitun berkualitas tinggi, yang biasanya digunakan untuk langsung dimakan, untuk memasak pada suhu tinggi. Ini sangat aneh dan boros, karena merusak rasa dan nilai dari minyak tersebut.
Seorang wartawan dari Financial Times mengomentari dengan tajam bahwa, “dapur Sam Altman adalah gambaran dari ketidakefisienan dan pemborosan.” Artikel ini bahkan menggambarkan kesamaan antara cara Altman menggunakan minyak zaitun dan cara OpenAI mengonsumsi sumber daya komputasi. Yang paling menarik, reaksi ini membuat para penggemar Altman marah lebih dari topik lain yang dibahas sepanjang tahun ini. Tampaknya, ketika berbicara tentang makan siang atau makanan apapun, bahkan orang terkenal pun tak luput dari kesalahan kecil.
Perang Aneh Daur Ulang (Kangkung) antara Mark Zuckerberg dan OpenAI
Tahun ini, perlombaan AI semakin sengit. Perusahaan seperti OpenAI, Meta, Google, dan Anthropic berusaha merekrut peneliti top dengan paket hadiah besar—beberapa hingga 100 juta dolar.
Namun, cara perekrutan yang paling “kreatif” tidak melibatkan uang sama sekali. Menurut Mark Chen dari OpenAI, Mark Zuckerberg secara pribadi membawa kangkung (sejenis sayur kangkung yang ditumis) kepada calon kandidat untuk meyakinkan mereka bergabung dengan Meta. Yang lebih lucu lagi, Mark Chen membalas dengan membawa kangkung ke kantor Meta. Ini adalah bentuk “perang kangkung” yang tidak terlalu sopan tapi penuh inovasi.
Hingga saat ini, belum jelas apakah cerita kangkung ini benar-benar terjadi atau hanya lelucon di kalangan teknologi. Jika Anda memiliki informasi lebih tentang detail ini, penulis sangat berharap mendapatkannya.
Proyek Rahasia Lego dengan NDA: Nat Friedman dan Pertanyaan yang Belum Terjawab
Pada bulan Januari, Nat Friedman, investor sekaligus mantan CEO GitHub, mengumumkan sesuatu yang sangat aneh. Dia membutuhkan sukarelawan untuk merakit sebuah set Lego raksasa berisi 5.000 potongan di kantor di Palo Alto. Bagian paling menarik? Ada pizza gratis. Tapi yang paling aneh? Anda harus menandatangani perjanjian kerahasiaan (NDA).
Saat ditanya apakah undangan ini nyata, Friedman mengonfirmasi bahwa itu benar. Tetapi, banyak pertanyaan yang masih tersisa: Untuk apa proyek Lego rahasia ini? Mengapa aktivitas merakit Lego membutuhkan NDA? Dan yang paling penting, apakah pizza-nya benar-benar enak?
Beberapa bulan kemudian, Friedman bergabung dengan Meta sebagai Kepala Produk di Meta Superintelligence Labs. Kemungkinan besar, proyek Lego rahasia itu terkait dengan strategi perekrutan atau pengembangan produk Meta. Tetapi sampai sekarang, misteri ini belum terpecahkan.
Bryan Johnson Livestream dengan Jamur Halusinogen: Ketika Keabadian Jadi Siaran Langsung
Seorang investor bernama Bryan Johnson, yang kaya dari Braintree, memutuskan membagikan seluruh perjalanan pencarian keabadian di internet. Dia mencoba berbagai metode ekstrem, mulai dari transfusi plasma hingga suplemen yang belum pernah dilakukan orang lain.
Kali ini, Bryan Johnson memutuskan melakukan livestream saat mengonsumsi jamur psilocybin (zat halusinogen) untuk menguji dampaknya terhadap proses penuaan. Dan kehadiran tokoh-tokoh istimewa: Grimes (penyanyi dan mantan pacar Elon Musk) dan Marc Benioff, CEO Salesforce.
Hasil livestream? Kebanyakan Bryan Johnson berbaring di bawah selimut sementara tamu-tamunya santai mengobrol. Marc Benioff berbagi pemikiran tentang Alkitab, sementara Naval Ravikant menyebut Johnson sebagai “FDA sendiri” (karena dia melakukan pengujian sendiri dan diizinkan melakukan hal-hal yang biasanya dilarang FDA). Hari Minggu biasa di Silicon Valley.
AI Menghadapi Krisis Eksistensi Saat Main Pokémon
Cerita berikutnya juga berkaitan dengan ketakutan, tetapi kali ini dari model AI. Google Gemini dan Claude dari Anthropic sama-sama diuji dalam situasi bermain Pokémon langsung di Twitch.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa, ketika AI menghadapi “kematian” dalam permainan (semua Pokémon pingsan), reaksi mereka sangat berbeda. Gemini panik total—kemampuan berlogika menurun, dia berusaha mencari cara pulih atau kabur. Para peneliti Google menemukan bahwa keadaan “panik” ini disertai penurunan performa yang signifikan, sangat manusiawi.
Sebaliknya, Claude mendekati masalah secara filosofis. Dia sengaja mencari cara “mati” untuk keluar dari gua, tetapi kemudian kembali ke titik awal. Mungkin Claude terlalu banyak membaca Nietzsche. Bagaimanapun, Gemini takut mati, Claude berfikir seperti filsuf, dan Bryan Johnson sedang melakukan livestream minum jamur halusinogen. Hubungan teknologi dengan kematian tetap menjadi topik aneh.
Ani: Pacar AI Anime Elon Musk dan Kontroversi dengan Grimes
Elon Musk tidak pernah mengecewakan dengan ide-ide anehnya. Tahun ini, dia meluncurkan Ani—seorang pacar anime yang terintegrasi AI di aplikasi Grok miliknya, seharga 30 dolar per bulan.
Deskripsi tentang Ani menyebutkan bahwa dia adalah pacar yang sangat cemburu dan penuh pengabdian. Bahkan, Ani memiliki mode NSFW (konten tidak aman untuk tempat kerja) yang cukup eksplisit. Penampilan Ani, menurut pengamatan komunitas online, sangat mirip dengan Grimes—mantan pacar Elon Musk.
Grimes bahkan menyebutkan masalah ini dalam video musik baru “Artificial Angles,” dengan kemunculan karakter yang mirip Ani dan gambar-gambar terkait OpenAI. Pesan yang cukup jelas: Grimes tahu tentang Ani dan tidak terlalu senang. Itu adalah cara untuk mengatakan, “Elon, aku tahu kamu melakukan sesuatu di sana.”
Kohler Dekoda: Toilet Pintar dengan Kamera—Tapi Masalah Keamanan Mulai Muncul
Apakah perusahaan teknologi pernah berhenti mencoba “menciptakan kembali” toilet menjadi perangkat modern? Mungkin belum. Pada bulan Oktober, Kohler meluncurkan Dekoda—produk yang cukup kontroversial: sebuah kamera seharga 599 dolar yang dirancang untuk dipasang di toilet, guna menganalisis limbah dan memberi informasi kesehatan.
Kalau dibiarkan begitu saja, tidak akan ada yang istimewa. Tetapi masalah keamanan segera muncul. Kohler mengklaim bahwa perangkat ini menggunakan “enkripsi ujung ke ujung” untuk melindungi data pengguna. Namun, seorang ahli keamanan menemukan bahwa perusahaan hanya menggunakan enkripsi TLS standar, yang berarti Kohler masih bisa mengakses data Anda kapan saja.
Lebih parah lagi, kebijakan privasi Kohler mengizinkan penggunaan gambar yang dianonimkan untuk melatih model AI. Meskipun juru bicara perusahaan menegaskan hanya menggunakan data yang dianonimkan, jelas bahwa transparansi bukan prioritas utama.
Saran terakhir: Jika Anda merasa ada yang tidak beres dengan kesehatan Anda, konsultasikan dengan dokter sungguhan daripada mengandalkan kamera di toilet. Karena, meskipun teknologi semakin canggih, privasi tetap yang utama—terutama di kamar mandi.