Jika melihat klub sepak bola berusia seabad di Eropa sebagai sampel jangka panjang dari “produk komunitas”, yang benar-benar mengagumkan bukanlah jumlah trofi, melainkan kemampuan mereka membuat berbagai generasi, lapisan masyarakat, bahkan warga negara berbeda, selama seratus tahun, secara konsisten bersedia menginvestasikan waktu, uang, dan emosi untuk menjaga sebuah komunitas yang sama.
Ini secara tepat menyentuh inti masalah startup Web3: industri ini mahir membahas pertumbuhan, insentif, token, dan tata kelola, tetapi sering kekurangan rasa kepemilikan dan kepercayaan yang mampu melintasi siklus. Popularitas datang cepat, hilang juga cepat; banyak proyek seperti bintang jatuh di langit malam, datang dan pergi dengan cepat, sekejap hilang tanpa suara; sebagian besar DAO dimulai dari idealisme utopia, tetapi akhirnya berujung pada konflik kepentingan yang egois.
Dan jika kita mundur ke masa kelahiran klub sepak bola, akan ditemukan logika yang lebih sederhana dan jangka panjang: awalnya, klub tidak dibentuk untuk melayani keinginan bisnis seorang pemilik, melainkan untuk mewakili komunitas dan penggemar, yang sangat sejalan dengan penekanan industri Web3 terhadap “komunitas yang digerakkan”. Karena itu, kembali ke titik awal klub berusia seratus tahun mungkin dapat memberikan referensi yang lebih andal untuk pembangunan komunitas Web3.
Identitas dan Keterikatan Budaya
Pada tahun 1878, di sebuah kedai pekerja di pinggiran Manchester, Inggris, terdengar sorak sorai suatu hari, beberapa pekerja lokomotif kereta api yang biasa berkumpul setelah pulang kerja, dengan antusias membicarakan ide membentuk tim sepak bola resmi. Kemudian, para pekerja ini mendirikan tim di Newton Heath, dengan seragam berwarna hijau dan emas khas perusahaan kereta api, bahkan ruang ganti mereka disewa dari kedai terdekat. Begitulah, sebuah tim yang didirikan oleh pekerja biasa secara diam-diam lahir—yang kemudian menjadi cikal bakal Manchester United, klub elit Premier League.
Cerita seperti ini bukanlah pengecualian milik MU saja. Di daratan Eropa, banyak klub berusia seratus tahun berakar dari komunitas kelas pekerja dan budaya lokal, sejak awal sepak bola tertanam dalam komunitas bawah kota industri.
Pada tahun 1899 di Spanyol, seorang pemuda Swiss bernama Hans Gamper yang ingin bermain sepak bola di tanah asing, mengiklankan di majalah olahraga setempat, mencari rekan yang berminat membentuk tim. Iklan ini juga menjadi “momen nyata” saat FC Barcelona mulai beroperasi: sekelompok orang Swiss, Catalan, Inggris, dan Jerman yang beragam berkumpul di stadion Sòlè, dan mendirikan klub Barcelona.
Tujuan Gamper adalah menciptakan organisasi yang terbuka bagi semua orang, tanpa memandang latar belakang, dan mampu mendorong integrasi sosial serta membangun masyarakat demokratis yang dikelola secara bebas oleh anggotanya. Untuk mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Catalonia yang menerimanya, Gamper menanamkan esensi identitas budaya Catalan ke dalam klub sepak bola Barcelona, dan esensi ini kemudian mendefinisikan citra Barcelona.
Selain itu, kisah Juventus yang menolak akuisisi dari perusahaan stablecoin Tether juga sangat berwarna komunitas. Sejarah singkat klub ini ditulis secara sederhana dan lugas: pada tahun 1897, sekelompok pelajar SMA di Turin yang ingin membentuk tim sepak bola di pusat kota, dan klub pun lahir dari sana. Tapi yang lebih patut dipelajari dari Juventus adalah bagaimana mereka menembus batas geografis “klub kota”: Juventus memiliki dukungan nasional di Italia, sebagian karena migrasi penduduk dari selatan—membuat kelompok imigran menganggap mendukung Juventus sebagai bagian dari integrasi mereka ke dalam kehidupan kota.
Melihat sejarah klub-klub tua Eropa, tidak sulit menyadari bahwa selama masa awal pembentukan, simbol identitas dan ritual memainkan peran penting. Warna, nama, lokasi kandang, dan lain-lain memperkuat pengakuan komunitas, dan mereka mahir menggunakan simbol serta cerita untuk menambahkan label identitas, sehingga orang biasa merasa bangga dan mengidentifikasi diri.
Contohnya, pada tahun 1883, ketika Blackburn Olympic menjadi tim pekerja pertama yang memenangkan Piala FA, seluruh wilayah utara Inggris merayakannya sebagai simbol kemenangan kelas bawah atas kelas atas. Narasi tentang “kemenangan yang tak terduga dari yang lemah” ini semakin membakar semangat penggemar di berbagai tempat, dan klub pun mendapatkan sekelompok penggemar setia pertama yang seperti bola salju, terus bertambah.
Bagi komunitas startup Web3, jejak pendirian klub sepak bola dan pembentukan komunitas dari seratus tahun lalu juga memiliki pelajaran berharga. Dengan memanfaatkan secara penuh tanah budaya dan kekuatan akar rumput, proyek dapat sejak awal menegaskan identitas, keterikatan budaya, dan misi mereka. Sama seperti para pekerja di era industri yang bersatu karena minat yang sama, identitas kota, dan kelas sosial, komunitas Web3 juga bisa berkumpul karena nilai dan visi yang sama.
Dalam tahap awal, proyek Web3 juga perlu menemukan posisi identitas dan pengguna inti mereka. Mengambil inspirasi dari klub sepak bola, tim startup harus merumuskan simbol dan cerita identitas yang jelas untuk komunitas. Komunitas perlu menemukan “rumah spiritual” yang mampu membangkitkan resonansi pengguna, seperti kepercayaan desentralisasi, subkultur tertentu, atau misi memecahkan masalah nyata, sebagai tanah budaya komunitas. Dengan menekankan identitas dan keterikatan budaya ini, mereka dapat menarik partisipan awal yang sejalan secara emosional dan sukarela berkumpul, membangun fondasi yang kokoh untuk pertumbuhan di masa depan.
Menghormati dan Percaya Pada Kekuatan Komunitas
Perjalanan klub sepak bola berusia seratus tahun tidak selalu mulus. Baik krisis keuangan, gejolak manajemen, maupun badai eksternal, yang sering membuat klub-klub tua tetap berdiri kokoh bukanlah satu orang sponsor atau politisi, melainkan komunitas yang bersatu di baliknya. Saat krisis datang, yang benar-benar muncul untuk melindungi klub biasanya adalah orang-orang biasa yang menganggap klub sebagai bagian dari hidup mereka.
“Dalam klub sepak bola, ada tiga entitas suci—pemain, pelatih, dan penggemar. Dewan tidak terlibat di dalamnya, mereka hanya datang untuk menandatangani cek.” Mantan pelatih legendaris Liverpool, Bill Shankly, pernah menegaskan esensi sepak bola seperti itu.
Pada akhir 2000-an, Liverpool terjerat utang besar akibat kepemilikan Amerika sebelumnya, dan prestasi serta keuangan klub sempat nyaris runtuh. Para penggemar, yang menyebut diri mereka “Spirit of Shankly” (SOS), secara sukarela mendirikan organisasi dengan nama yang sama, menyerukan protes terhadap manajemen yang keliru. Antara 2008-2010, berbagai demonstrasi besar di Anfield dan luar stadion terjadi: mengibarkan spanduk, duduk diam setelah pertandingan, bahkan melakukan aksi di pengadilan tinggi di London untuk mendukung gugatan.
Akhirnya, sikap tegas para penggemar memaksa pemilik yang tidak populer menjual klub, dan pemilik baru segera menstabilkan situasi. “Ikatan unik klub terletak pada hubungan suci antara penggemar dan tim, ini adalah denyut jantung kami,” kata manajemen baru dalam surat terbuka kepada penggemar, meminta maaf dan berjanji melakukan perubahan. Selama bertahun-tahun kemudian, mereka menahan harga tiket untuk membangun kembali kepercayaan penggemar. Semua ini menunjukkan bahwa saat arah klub tersesat, kekuatan komunitas mampu mengembalikannya ke jalur yang benar.
Contoh lain, di pertengahan 2010-an, Borussia Dortmund yang kehabisan dana dan nyaris bangkrut pada 2005, saat nyaris gulung tikar, para penggemar menggelar demonstrasi dan gerakan “We Are Dortmund” yang mengajak seluruh kota membantu. Ribuan pendukung berwarna kuning hitam menyanyikan lagu tim di luar kandang, menggalang dana untuk menyelamatkan klub, dan para pemain rela menurunkan gaji 20% untuk bertahan bersama.
Akhirnya, berkat kerja sama pemerintah daerah, perusahaan, dan penggemar, Dortmund bangkit dari keterpurukan. Mereka mengubah pengalaman ini menjadi budaya baru: mengusung slogan “Echte Liebe” (Cinta Sejati), menegaskan semangat Dortmund yang mendukung tanpa syarat. Seorang pemain tengah Dortmund menyatakan, “Cinta sejati berarti mencintai tanpa syarat—itulah semangat Dortmund, kekuatan kami.”
Terlihat bahwa saat krisis, kekuatan utama yang membantu klub melewati masa sulit adalah ikatan tak terputus dengan komunitas. Kekuatan ini berasal dari pengakuan hati setiap penggemar biasa, yang menganggap klub sebagai bagian dari perjuangan dan kehormatan bersama. Ketika lingkungan eksternal bergolak, komunitas penggemar seperti benteng tak tergoyahkan yang menopang masa depan tim.
Lebih dari itu, beberapa klub secara sistematis mengintegrasikan komunitas ke dalam struktur tata kelola, sehingga meningkatkan ketahanan terhadap risiko. Barcelona dan Real Madrid di Spanyol tetap mempertahankan sistem keanggotaan tanpa dividen untuk pemegang saham, dan ketua klub dipilih langsung oleh seluruh “Socios” (anggota). Barcelona memiliki lebih dari 150.000 anggota, menjadikannya klub berbasis anggota terbesar di dunia. Kepemilikan yang tersebar ini membuat klub sulit dikendalikan oleh satu konglomerat, dan keputusan besar harus mempertimbangkan kepentingan anggota secara luas. Contohnya, di pertengahan 2010-an, meskipun keuangan Barcelona mengalami kesulitan, mereka menolak akuisisi dari modal eksternal, dan hal ini dilindungi oleh suara puluhan ribu anggota yang menjaga independensi klub.
Begitu pula, sebagian besar klub Jerman mengikuti aturan “50+1”, memastikan bahwa penggemar dan anggota memegang mayoritas hak suara. Sistem ini membuat klub lebih seperti properti publik; saat badai datang, penggemar tidak akan diam saja, melainkan turut serta dalam pengambilan keputusan dan bersama-sama mengatasi kesulitan.
Proyek Web3 yang menekankan komunitas secara alami memiliki keunggulan teknologi untuk melibatkan komunitas dalam tata kelola dan berbagi manfaat. Mereka dapat meniru inspirasi dari klub-klub berusia seratus tahun ini, membangun mekanisme tata kelola dan insentif yang lebih tahan banting.
Pertama, mendorong pembangunan dan tata kelola komunitas yang sejati. Seperti klub berbasis anggota yang memberi hak suara kepada penggemar, proyek Web3 dapat menggunakan token atau DAO untuk melibatkan pengguna dalam pengambilan keputusan penting, meningkatkan rasa kepemilikan dan tanggung jawab. Saat proyek mengalami masa sulit atau diserang hacker, anggota komunitas yang terikat secara mendalam ini lebih cenderung untuk turun tangan membantu, bukan pergi begitu saja.
Kedua, merancang insentif token yang adil untuk mengikat kepentingan. Mengambil contoh dari tiket musiman dan saham klub, mengeluarkan token yang memiliki hak tata kelola atau mekanisme berbagi keuntungan, sehingga anggota yang memegang dan berpartisipasi jangka panjang mendapatkan hak lebih besar. Ketika anggota komunitas berinvestasi secara ekonomi dan emosional, mereka lebih cenderung bertahan dan membantu proyek berkembang saat pasar sedang lesu, daripada menjual dan pergi.
Selain itu, pentingnya insentif spiritual adalah bagian tersulit dan paling unik. Dukungan penggemar sepak bola seringkali didasari oleh emosi tanpa mengharapkan balasan. Komunitas Web3 juga harus membangun ikatan semangat ini, misalnya dengan komunikasi tulus saat masa sulit, seperti yang dilakukan pemilik baru Liverpool yang mengakui kesalahan dan menunjukkan rasa hormat serta terima kasih kepada pengguna. Ketika pengguna merasakan ketulusan dan rasa komunitas dari proyek, mereka cenderung lebih setia dan bahkan mengajak orang lain untuk mendukung bersama melewati masa sulit.
Legenda dan Simbol Semangat
Dalam perjalanan panjangnya, klub sepak bola sering melahirkan tokoh legendaris. Mereka bisa menjadi pahlawan di lapangan yang mengatasi krisis, atau pelatih jenius yang menentukan nasib klub dari belakang layar. Karakter-karakter hidup ini menjadi memori bersama dan bahan obrolan komunitas, sekaligus menjadi “titik jangkar” dan “simbol semangat” dalam narasi klub.
Di Liverpool tahun 1960-an, pelatih Bill Shankly tidak hanya membawa tim kembali ke liga utama dan meraih gelar, tetapi juga meninggalkan citra pribadi yang sangat melekat di hati penggemar. Ia lahir dari keluarga pekerja di Skotlandia, menganut filosofi sepak bola sosialis, dan mengedepankan tim sebagai satu kesatuan, berbagi kemenangan dan kekalahan. Konon, Shankly sering berkata di ruang ganti kepada pemain: “Saya hanyalah penggemar biasa yang duduk di tribun, hanya saja saya bertugas sebagai pelatih. Kalian dan penggemar berpikir sama, kita satu keluarga.” Banyak kata-katanya yang kini dikenang oleh penggemar Liverpool.
Dalam autobiografinya, Shankly menulis: “Sejak awal karier saya melatih, saya berusaha menunjukkan kepada penggemar bahwa mereka adalah yang terpenting. Kamu harus tahu bagaimana memperlakukan mereka dan memenangkan dukungan mereka.” Itulah yang ia pikirkan dan lakukan. Pada April 1973, saat Shankly dan timnya memperlihatkan trofi juara liga di tribun Kop Anfield, ia melihat seorang polisi membuang sebuah syal Liverpool yang masih mengarah padanya. Shankly langsung mengambil syal itu, memakainya di leher, dan berkata kepada polisi: “Jangan begitu, ini sangat berharga.”
Shankly menekankan pentingnya komunikasi dengan penggemar, menggunakan siaran radio umum untuk menjelaskan susunan tim dan pandangannya tentang pertandingan sebelumnya. Ia juga secara pribadi membalas surat penggemar dengan mesin tik kuno. Ia tidak ragu membantu penggemar yang dianggap layak, bahkan mendapatkan tiket pertandingan untuk mereka, dan menulis dalam autobiografinya bahwa selama wajar, ia bersedia memberi apa saja.
Ketika Shankly meninggal tahun 1981, ribuan penggemar secara sukarela turun ke jalan untuk mengantarkan kepergiannya. Sejak saat itu, Shankly tidak hanya menjadi pelatih legendaris, tetapi juga simbol semangat kota Liverpool. Maka dari itu, saat penggemar Liverpool membentuk organisasi protes terhadap pemilik yang buruk, mereka menamainya “Spirit of Shankly”—menggunakan kekuatan legenda ini untuk menggalang solidaritas. Ini menunjukkan pengaruh besar tokoh ikonik dalam narasi komunitas: kepribadian dan kisah mereka menjadi simbol yang membimbing dan menginspirasi seluruh komunitas.
Dalam hal pemain, setiap klub besar juga memiliki “tokoh panutan” yang dihormati penggemar. Sir Matt Busby dan Sir Alex Ferguson di MU, yang membangun kejayaan The Red Devils, dengan keanggunan dan kebijaksanaan mereka menjadi legenda; Johan Cruyff di Barcelona, yang tidak hanya berprestasi sebagai pemain, tetapi juga sebagai pelatih yang menciptakan era “Dream Team”, menetapkan gaya permainan tiki-taka yang memikat.
Dapat dikatakan, setiap kisah klub besar hidup karena kehadiran tokoh-tokoh ini. Perilaku dan cerita mereka memengaruhi komunitas, dan momen-momen gemilang mereka menjadi memori kolektif, sekaligus menjadi simbol narasi dan titik koordinat semangat komunitas.
Dalam komunitas Web3, meskipun konteksnya berbeda, memanfaatkan “tokoh kunci” untuk membangun narasi komunitas juga sangat penting. Tim inti atau duta proyek dapat menggunakan daya tarik pribadi mereka untuk memperkuat kohesi komunitas. Ini bukan untuk mendorong kultus pribadi, melainkan kadang-kadang dengan memanfaatkan nilai dan cerita pemimpin, komunitas mendapatkan panduan spiritual yang jelas.
Selain itu, tokoh-tokoh ini harus menjaga etika dan standar profesional, aktif berinteraksi dengan komunitas, transparan, dan tulus, serta menghormati dan mencintai komunitas seperti Shankly yang menghormati penggemar. Dengan memanfaatkan pengaruh tokoh dan anggota inti secara cerdas, komunitas Web3 dapat memperoleh kekuatan naratif yang besar, membangkitkan resonansi emosional dan loyalitas jangka panjang, sebagaimana klub berusia seratus tahun mengikat beberapa generasi penggemar melalui kisah-kisah legendaris.
Perlu diingat, terlalu bergantung pada satu tokoh saja berisiko. Oleh karena itu, tim Web3 harus menyeimbangkan penggunaan pengaruh tokoh dengan membangun rasa kepemilikan kolektif, memastikan bahwa meskipun tokoh utama keluar, semangat dan narasi tetap lestari melalui sistem dan budaya, sehingga komunitas tetap berkelanjutan.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Rahasia Melampaui Siklus: Klub Sepak Bola Berusia Seratus Tahun Memberikan Inspirasi Bertahan Hidup untuk Web3
Penulis: Zen, PANews
Jika melihat klub sepak bola berusia seabad di Eropa sebagai sampel jangka panjang dari “produk komunitas”, yang benar-benar mengagumkan bukanlah jumlah trofi, melainkan kemampuan mereka membuat berbagai generasi, lapisan masyarakat, bahkan warga negara berbeda, selama seratus tahun, secara konsisten bersedia menginvestasikan waktu, uang, dan emosi untuk menjaga sebuah komunitas yang sama.
Ini secara tepat menyentuh inti masalah startup Web3: industri ini mahir membahas pertumbuhan, insentif, token, dan tata kelola, tetapi sering kekurangan rasa kepemilikan dan kepercayaan yang mampu melintasi siklus. Popularitas datang cepat, hilang juga cepat; banyak proyek seperti bintang jatuh di langit malam, datang dan pergi dengan cepat, sekejap hilang tanpa suara; sebagian besar DAO dimulai dari idealisme utopia, tetapi akhirnya berujung pada konflik kepentingan yang egois.
Dan jika kita mundur ke masa kelahiran klub sepak bola, akan ditemukan logika yang lebih sederhana dan jangka panjang: awalnya, klub tidak dibentuk untuk melayani keinginan bisnis seorang pemilik, melainkan untuk mewakili komunitas dan penggemar, yang sangat sejalan dengan penekanan industri Web3 terhadap “komunitas yang digerakkan”. Karena itu, kembali ke titik awal klub berusia seratus tahun mungkin dapat memberikan referensi yang lebih andal untuk pembangunan komunitas Web3.
Identitas dan Keterikatan Budaya
Pada tahun 1878, di sebuah kedai pekerja di pinggiran Manchester, Inggris, terdengar sorak sorai suatu hari, beberapa pekerja lokomotif kereta api yang biasa berkumpul setelah pulang kerja, dengan antusias membicarakan ide membentuk tim sepak bola resmi. Kemudian, para pekerja ini mendirikan tim di Newton Heath, dengan seragam berwarna hijau dan emas khas perusahaan kereta api, bahkan ruang ganti mereka disewa dari kedai terdekat. Begitulah, sebuah tim yang didirikan oleh pekerja biasa secara diam-diam lahir—yang kemudian menjadi cikal bakal Manchester United, klub elit Premier League.
Cerita seperti ini bukanlah pengecualian milik MU saja. Di daratan Eropa, banyak klub berusia seratus tahun berakar dari komunitas kelas pekerja dan budaya lokal, sejak awal sepak bola tertanam dalam komunitas bawah kota industri.
Pada tahun 1899 di Spanyol, seorang pemuda Swiss bernama Hans Gamper yang ingin bermain sepak bola di tanah asing, mengiklankan di majalah olahraga setempat, mencari rekan yang berminat membentuk tim. Iklan ini juga menjadi “momen nyata” saat FC Barcelona mulai beroperasi: sekelompok orang Swiss, Catalan, Inggris, dan Jerman yang beragam berkumpul di stadion Sòlè, dan mendirikan klub Barcelona.
Tujuan Gamper adalah menciptakan organisasi yang terbuka bagi semua orang, tanpa memandang latar belakang, dan mampu mendorong integrasi sosial serta membangun masyarakat demokratis yang dikelola secara bebas oleh anggotanya. Untuk mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Catalonia yang menerimanya, Gamper menanamkan esensi identitas budaya Catalan ke dalam klub sepak bola Barcelona, dan esensi ini kemudian mendefinisikan citra Barcelona.
Selain itu, kisah Juventus yang menolak akuisisi dari perusahaan stablecoin Tether juga sangat berwarna komunitas. Sejarah singkat klub ini ditulis secara sederhana dan lugas: pada tahun 1897, sekelompok pelajar SMA di Turin yang ingin membentuk tim sepak bola di pusat kota, dan klub pun lahir dari sana. Tapi yang lebih patut dipelajari dari Juventus adalah bagaimana mereka menembus batas geografis “klub kota”: Juventus memiliki dukungan nasional di Italia, sebagian karena migrasi penduduk dari selatan—membuat kelompok imigran menganggap mendukung Juventus sebagai bagian dari integrasi mereka ke dalam kehidupan kota.
Melihat sejarah klub-klub tua Eropa, tidak sulit menyadari bahwa selama masa awal pembentukan, simbol identitas dan ritual memainkan peran penting. Warna, nama, lokasi kandang, dan lain-lain memperkuat pengakuan komunitas, dan mereka mahir menggunakan simbol serta cerita untuk menambahkan label identitas, sehingga orang biasa merasa bangga dan mengidentifikasi diri.
Contohnya, pada tahun 1883, ketika Blackburn Olympic menjadi tim pekerja pertama yang memenangkan Piala FA, seluruh wilayah utara Inggris merayakannya sebagai simbol kemenangan kelas bawah atas kelas atas. Narasi tentang “kemenangan yang tak terduga dari yang lemah” ini semakin membakar semangat penggemar di berbagai tempat, dan klub pun mendapatkan sekelompok penggemar setia pertama yang seperti bola salju, terus bertambah.
Bagi komunitas startup Web3, jejak pendirian klub sepak bola dan pembentukan komunitas dari seratus tahun lalu juga memiliki pelajaran berharga. Dengan memanfaatkan secara penuh tanah budaya dan kekuatan akar rumput, proyek dapat sejak awal menegaskan identitas, keterikatan budaya, dan misi mereka. Sama seperti para pekerja di era industri yang bersatu karena minat yang sama, identitas kota, dan kelas sosial, komunitas Web3 juga bisa berkumpul karena nilai dan visi yang sama.
Dalam tahap awal, proyek Web3 juga perlu menemukan posisi identitas dan pengguna inti mereka. Mengambil inspirasi dari klub sepak bola, tim startup harus merumuskan simbol dan cerita identitas yang jelas untuk komunitas. Komunitas perlu menemukan “rumah spiritual” yang mampu membangkitkan resonansi pengguna, seperti kepercayaan desentralisasi, subkultur tertentu, atau misi memecahkan masalah nyata, sebagai tanah budaya komunitas. Dengan menekankan identitas dan keterikatan budaya ini, mereka dapat menarik partisipan awal yang sejalan secara emosional dan sukarela berkumpul, membangun fondasi yang kokoh untuk pertumbuhan di masa depan.
Menghormati dan Percaya Pada Kekuatan Komunitas
Perjalanan klub sepak bola berusia seratus tahun tidak selalu mulus. Baik krisis keuangan, gejolak manajemen, maupun badai eksternal, yang sering membuat klub-klub tua tetap berdiri kokoh bukanlah satu orang sponsor atau politisi, melainkan komunitas yang bersatu di baliknya. Saat krisis datang, yang benar-benar muncul untuk melindungi klub biasanya adalah orang-orang biasa yang menganggap klub sebagai bagian dari hidup mereka.
“Dalam klub sepak bola, ada tiga entitas suci—pemain, pelatih, dan penggemar. Dewan tidak terlibat di dalamnya, mereka hanya datang untuk menandatangani cek.” Mantan pelatih legendaris Liverpool, Bill Shankly, pernah menegaskan esensi sepak bola seperti itu.
Pada akhir 2000-an, Liverpool terjerat utang besar akibat kepemilikan Amerika sebelumnya, dan prestasi serta keuangan klub sempat nyaris runtuh. Para penggemar, yang menyebut diri mereka “Spirit of Shankly” (SOS), secara sukarela mendirikan organisasi dengan nama yang sama, menyerukan protes terhadap manajemen yang keliru. Antara 2008-2010, berbagai demonstrasi besar di Anfield dan luar stadion terjadi: mengibarkan spanduk, duduk diam setelah pertandingan, bahkan melakukan aksi di pengadilan tinggi di London untuk mendukung gugatan.
Akhirnya, sikap tegas para penggemar memaksa pemilik yang tidak populer menjual klub, dan pemilik baru segera menstabilkan situasi. “Ikatan unik klub terletak pada hubungan suci antara penggemar dan tim, ini adalah denyut jantung kami,” kata manajemen baru dalam surat terbuka kepada penggemar, meminta maaf dan berjanji melakukan perubahan. Selama bertahun-tahun kemudian, mereka menahan harga tiket untuk membangun kembali kepercayaan penggemar. Semua ini menunjukkan bahwa saat arah klub tersesat, kekuatan komunitas mampu mengembalikannya ke jalur yang benar.
Contoh lain, di pertengahan 2010-an, Borussia Dortmund yang kehabisan dana dan nyaris bangkrut pada 2005, saat nyaris gulung tikar, para penggemar menggelar demonstrasi dan gerakan “We Are Dortmund” yang mengajak seluruh kota membantu. Ribuan pendukung berwarna kuning hitam menyanyikan lagu tim di luar kandang, menggalang dana untuk menyelamatkan klub, dan para pemain rela menurunkan gaji 20% untuk bertahan bersama.
Akhirnya, berkat kerja sama pemerintah daerah, perusahaan, dan penggemar, Dortmund bangkit dari keterpurukan. Mereka mengubah pengalaman ini menjadi budaya baru: mengusung slogan “Echte Liebe” (Cinta Sejati), menegaskan semangat Dortmund yang mendukung tanpa syarat. Seorang pemain tengah Dortmund menyatakan, “Cinta sejati berarti mencintai tanpa syarat—itulah semangat Dortmund, kekuatan kami.”
Terlihat bahwa saat krisis, kekuatan utama yang membantu klub melewati masa sulit adalah ikatan tak terputus dengan komunitas. Kekuatan ini berasal dari pengakuan hati setiap penggemar biasa, yang menganggap klub sebagai bagian dari perjuangan dan kehormatan bersama. Ketika lingkungan eksternal bergolak, komunitas penggemar seperti benteng tak tergoyahkan yang menopang masa depan tim.
Lebih dari itu, beberapa klub secara sistematis mengintegrasikan komunitas ke dalam struktur tata kelola, sehingga meningkatkan ketahanan terhadap risiko. Barcelona dan Real Madrid di Spanyol tetap mempertahankan sistem keanggotaan tanpa dividen untuk pemegang saham, dan ketua klub dipilih langsung oleh seluruh “Socios” (anggota). Barcelona memiliki lebih dari 150.000 anggota, menjadikannya klub berbasis anggota terbesar di dunia. Kepemilikan yang tersebar ini membuat klub sulit dikendalikan oleh satu konglomerat, dan keputusan besar harus mempertimbangkan kepentingan anggota secara luas. Contohnya, di pertengahan 2010-an, meskipun keuangan Barcelona mengalami kesulitan, mereka menolak akuisisi dari modal eksternal, dan hal ini dilindungi oleh suara puluhan ribu anggota yang menjaga independensi klub.
Begitu pula, sebagian besar klub Jerman mengikuti aturan “50+1”, memastikan bahwa penggemar dan anggota memegang mayoritas hak suara. Sistem ini membuat klub lebih seperti properti publik; saat badai datang, penggemar tidak akan diam saja, melainkan turut serta dalam pengambilan keputusan dan bersama-sama mengatasi kesulitan.
Proyek Web3 yang menekankan komunitas secara alami memiliki keunggulan teknologi untuk melibatkan komunitas dalam tata kelola dan berbagi manfaat. Mereka dapat meniru inspirasi dari klub-klub berusia seratus tahun ini, membangun mekanisme tata kelola dan insentif yang lebih tahan banting.
Pertama, mendorong pembangunan dan tata kelola komunitas yang sejati. Seperti klub berbasis anggota yang memberi hak suara kepada penggemar, proyek Web3 dapat menggunakan token atau DAO untuk melibatkan pengguna dalam pengambilan keputusan penting, meningkatkan rasa kepemilikan dan tanggung jawab. Saat proyek mengalami masa sulit atau diserang hacker, anggota komunitas yang terikat secara mendalam ini lebih cenderung untuk turun tangan membantu, bukan pergi begitu saja.
Kedua, merancang insentif token yang adil untuk mengikat kepentingan. Mengambil contoh dari tiket musiman dan saham klub, mengeluarkan token yang memiliki hak tata kelola atau mekanisme berbagi keuntungan, sehingga anggota yang memegang dan berpartisipasi jangka panjang mendapatkan hak lebih besar. Ketika anggota komunitas berinvestasi secara ekonomi dan emosional, mereka lebih cenderung bertahan dan membantu proyek berkembang saat pasar sedang lesu, daripada menjual dan pergi.
Selain itu, pentingnya insentif spiritual adalah bagian tersulit dan paling unik. Dukungan penggemar sepak bola seringkali didasari oleh emosi tanpa mengharapkan balasan. Komunitas Web3 juga harus membangun ikatan semangat ini, misalnya dengan komunikasi tulus saat masa sulit, seperti yang dilakukan pemilik baru Liverpool yang mengakui kesalahan dan menunjukkan rasa hormat serta terima kasih kepada pengguna. Ketika pengguna merasakan ketulusan dan rasa komunitas dari proyek, mereka cenderung lebih setia dan bahkan mengajak orang lain untuk mendukung bersama melewati masa sulit.
Legenda dan Simbol Semangat
Dalam perjalanan panjangnya, klub sepak bola sering melahirkan tokoh legendaris. Mereka bisa menjadi pahlawan di lapangan yang mengatasi krisis, atau pelatih jenius yang menentukan nasib klub dari belakang layar. Karakter-karakter hidup ini menjadi memori bersama dan bahan obrolan komunitas, sekaligus menjadi “titik jangkar” dan “simbol semangat” dalam narasi klub.
Di Liverpool tahun 1960-an, pelatih Bill Shankly tidak hanya membawa tim kembali ke liga utama dan meraih gelar, tetapi juga meninggalkan citra pribadi yang sangat melekat di hati penggemar. Ia lahir dari keluarga pekerja di Skotlandia, menganut filosofi sepak bola sosialis, dan mengedepankan tim sebagai satu kesatuan, berbagi kemenangan dan kekalahan. Konon, Shankly sering berkata di ruang ganti kepada pemain: “Saya hanyalah penggemar biasa yang duduk di tribun, hanya saja saya bertugas sebagai pelatih. Kalian dan penggemar berpikir sama, kita satu keluarga.” Banyak kata-katanya yang kini dikenang oleh penggemar Liverpool.
Dalam autobiografinya, Shankly menulis: “Sejak awal karier saya melatih, saya berusaha menunjukkan kepada penggemar bahwa mereka adalah yang terpenting. Kamu harus tahu bagaimana memperlakukan mereka dan memenangkan dukungan mereka.” Itulah yang ia pikirkan dan lakukan. Pada April 1973, saat Shankly dan timnya memperlihatkan trofi juara liga di tribun Kop Anfield, ia melihat seorang polisi membuang sebuah syal Liverpool yang masih mengarah padanya. Shankly langsung mengambil syal itu, memakainya di leher, dan berkata kepada polisi: “Jangan begitu, ini sangat berharga.”
Shankly menekankan pentingnya komunikasi dengan penggemar, menggunakan siaran radio umum untuk menjelaskan susunan tim dan pandangannya tentang pertandingan sebelumnya. Ia juga secara pribadi membalas surat penggemar dengan mesin tik kuno. Ia tidak ragu membantu penggemar yang dianggap layak, bahkan mendapatkan tiket pertandingan untuk mereka, dan menulis dalam autobiografinya bahwa selama wajar, ia bersedia memberi apa saja.
Ketika Shankly meninggal tahun 1981, ribuan penggemar secara sukarela turun ke jalan untuk mengantarkan kepergiannya. Sejak saat itu, Shankly tidak hanya menjadi pelatih legendaris, tetapi juga simbol semangat kota Liverpool. Maka dari itu, saat penggemar Liverpool membentuk organisasi protes terhadap pemilik yang buruk, mereka menamainya “Spirit of Shankly”—menggunakan kekuatan legenda ini untuk menggalang solidaritas. Ini menunjukkan pengaruh besar tokoh ikonik dalam narasi komunitas: kepribadian dan kisah mereka menjadi simbol yang membimbing dan menginspirasi seluruh komunitas.
Dalam hal pemain, setiap klub besar juga memiliki “tokoh panutan” yang dihormati penggemar. Sir Matt Busby dan Sir Alex Ferguson di MU, yang membangun kejayaan The Red Devils, dengan keanggunan dan kebijaksanaan mereka menjadi legenda; Johan Cruyff di Barcelona, yang tidak hanya berprestasi sebagai pemain, tetapi juga sebagai pelatih yang menciptakan era “Dream Team”, menetapkan gaya permainan tiki-taka yang memikat.
Dapat dikatakan, setiap kisah klub besar hidup karena kehadiran tokoh-tokoh ini. Perilaku dan cerita mereka memengaruhi komunitas, dan momen-momen gemilang mereka menjadi memori kolektif, sekaligus menjadi simbol narasi dan titik koordinat semangat komunitas.
Dalam komunitas Web3, meskipun konteksnya berbeda, memanfaatkan “tokoh kunci” untuk membangun narasi komunitas juga sangat penting. Tim inti atau duta proyek dapat menggunakan daya tarik pribadi mereka untuk memperkuat kohesi komunitas. Ini bukan untuk mendorong kultus pribadi, melainkan kadang-kadang dengan memanfaatkan nilai dan cerita pemimpin, komunitas mendapatkan panduan spiritual yang jelas.
Selain itu, tokoh-tokoh ini harus menjaga etika dan standar profesional, aktif berinteraksi dengan komunitas, transparan, dan tulus, serta menghormati dan mencintai komunitas seperti Shankly yang menghormati penggemar. Dengan memanfaatkan pengaruh tokoh dan anggota inti secara cerdas, komunitas Web3 dapat memperoleh kekuatan naratif yang besar, membangkitkan resonansi emosional dan loyalitas jangka panjang, sebagaimana klub berusia seratus tahun mengikat beberapa generasi penggemar melalui kisah-kisah legendaris.
Perlu diingat, terlalu bergantung pada satu tokoh saja berisiko. Oleh karena itu, tim Web3 harus menyeimbangkan penggunaan pengaruh tokoh dengan membangun rasa kepemilikan kolektif, memastikan bahwa meskipun tokoh utama keluar, semangat dan narasi tetap lestari melalui sistem dan budaya, sehingga komunitas tetap berkelanjutan.